Cerita Perubahan

Semangat Baru Desa Wisata dari Lombok Utara

Author: Andhiani Manik Kumalasari / Paulus Enggal Sulaksono
Published: 06/05/2022

Pengelola desa wisata di Lombok Utara menemukan semangat baru dalam mengelola potensi wisatanya. Kemitraan pemerintah daerah bersama KOMPAK, akademisi, sektor swasta, masyarakat lokal, dan media membuat pengembangan desa wisata menjadi lebih kolaboratif dan sinergis. Kolaborasi dan pendampingan ini menjadi oase bagi desa wisata yang terdampak gempa bumi dan pandemi COVID-19.


Desa Wisata Bayan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Saharudin Efendi (46), ketua Forum Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lombok Utara tersenyum sumringah saat ditemui di Bale Jukung, Desa Sorong Jukung, Kecamatan Tanjung. Hari itu, Selasa (30/11/2021), dia tengah mengikuti kegiatan diseminasi dan pelatihan panduan Keperantaraan Pasar yang digelar Bappenas dan KOMPAK.

Saharudin antusias mengikuti acara pelatihan seperti itu. Dari pertemuan-pertemuan tersebut dia mendapat banyak masukan dan pengetahuan tentang strategi pengembangan potensi ekonomi dan pengembangan serta pengelolaan desa wisata.

”Saya selaku pengurus dan ketua Forum Pokdarwis banyak mendapat pengetahuan dari teman-teman KOMPAK. Dulu, Pokdarwis hanya nama karena jarang terlibat kegiatan. Sekarang kami menjadi salah satu aktor kunci pengembangan dan pengelolaan desa wisata. Peran ini juga diakui oleh pemerintah daerah,” kata Saharudin.

Saat ini Pokdarwis menjadi satu kesatuan dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Pokdarwis menjadi operator dan bagian dari Unit Usaha Desa Wisata dibawah BUMDES yang memiliki peran penting dalam memastikan kesiapan destinasi, layanan prima, dan paket wisata berkualitas.

BUMDES membantu memperkuat branding, promosi , dan pemasaran sekaligus menjadi manajer pengembangan dan pengelolaan desa wisata. BUMDES memastikan bahwa keberadaan desa wisata dapat berdampak pada munculnya peluang kerja baru, pengurangan angka kemiskinan, dan meningkatkan perekonomian perdesaan melalui kontribusi BUMDES terhadap peningkatan Pendapatan Asli Desa.

Menurut Saharudin, ini berkat implementasi model Keperantaraan Pasar yang melibatkan para pemangku kepentingan dan bersifat holistik. “Keperantaraan Pasar mendorong terbitnya regulasi dan konsep pengembangan desa wisata berbasis masyarakat dan berkelanjutan. Kami juga belajar soal standar pelayanan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia,” terangnya. “Selain itu kami belajar soal kelembagaan dan advokasi anggaran melalui alokasi Dana Desa,” imbuhnya.

Hasilnya, saat ini sudah ada Surat Keputusan (SK) Bupati Nomor 366/556/Disbupar/2020 tentang penetapan enam Desa Wisata tematik, yaitu  Desa Bayan, Senaru, Karang Bajo, Genggelang, Medana, dan Malaka. Selain itu sudah tersedia juga Buku Panduan dan Modul Pelatihan Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat dan Berkelanjutan.

”KOMPAK juga  menekankan  pentingnya masyarakat desa sebagai aktor utama perubahan dan pembangunan desa, termasuk dalam pengembangan dan pengelolaan desa wisata serta memastikan keberlanjutannya,” katanya.

Trisna Riswandi, Sekretaris Unit Desa Wisata, BUMDES Senaru juga merasakan manfaat pendampingan yang diberikan KOMPAK bersama mitranya.

”KOMPAK memberikan pemahaman tentang pentingnya memahami regulasi dan kebijakan dahulu, karena itu adalah dasar dalam menjalankan sesuatu, baru setelah itu kami diperkuat di tingkat kelembagaan, kapasitas SDM, jejaring dan penganggaran, termasuk menyusun rencana usaha BUMDES selama 5 tahun (2021-2025),” ujarnya.

Trisna baru menyadari pentingnya berkolaborasi dengan instansi lainnya dalam mengembangkan desa wisata setelah memfasilitasi pertemuan business trading pada 29-30 Oktober 2021 dengan anggota tour dan travel dari Asosiasi Penyelenggara Perjalanan Wisata Indonesia (ASPERWI). Kegiatan ini mampu menghasilkan kesepakatan pembelian Paket Wisata dengan Desa Senaru, Bayan, dan Genggelang sebesar Rp350 juta untuk periode Desember 2021-Januari 2022.

”Kesepakatan ini menjadi salah satu kontribusi BUMDES untuk berperan aktif memaksimalkan ragam potensi desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi angka pengangguran di desa melalui pengembangan Desa Wisata,” ujarnya.

Menurut Trisna Riswandi, BUMDES memiliki peran strategis untuk memastikan manfaat pengelolaan Desa Wisata dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya mereka yang miskin dan rentan, sehingga pemerataan kesejahteraan dapat terwujud.

“Sebelumnya  manfaat pengelolaan wisata di Desa Senaru cenderung dinikmati beberapa orang. Bersama KOMPAK dan pemangku kepentingan lainnya, desa menyusun regulasi dan kebijakan serta kelembagaan melalui peraturan desa, SK Kepala Desa, maupun melalui nota kesepahaman tata kelola aset pemda dan desa,” katanya.  

NoJenis DukunganSumber Dukungan
1Pembangunan enam homestay senilai Rp600 jutaKemendesa PDTT
2Pembangunan ampiteater senilai Rp1 miliarKemendesa PDTT
3Penyertaan modal untuk BUMDES senilai Rp200 jutaPemerintah Desa Senaru
4Pembelian fasilitas homestay senilai Rp150 jutaKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
5Penyertaan modal senilai Rp1,2 miliarUnit usaha penyediaan air minum BUMDES
Dampak positif pembentukan BUMDES pada pengelolaan Desa Wisata

Desa Wisata Senaru menyambut wisatawan di era 'new normal'

Saat ini, hampir semua potensi wisata di Desa Senaru dikelola oleh BUMDES. “Kami sedang mengajukan pengelolaan parkir secara mandiri melalui BUMDES kepada Bupati dan Dinas Perhubungan Kabupaten Lombok Utara. Selain itu kami sedang menyelesaikan rancangan nota kerja sama pengelolaan Air Terjun Singanggila dengan pemerintah daerah,” ujar Trisna.

Pada 2021, Desa Wisata Senaru menjadi juara empat (4) di Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) untuk Kategori Daya Tarik Wisata. Kegiatan ADWI ini diikuti oleh 1.831 Desa Wisata se-Indonesia. Ini adalah salah satu capaian terbaik yang diraih oleh Desa Senaru melalui model  Keperantaraan Pasar.

Menghadapi pandemi COVID-19, BUMDES Senaru terus membenahi pengelolaan potensi wisata, diantaranya dengan mempromosikan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan atau yang lebih dikenal dengan sertifikasi CHSE (cleanlines health, safety, and environment sustainability).

Sementara itu di Desa Bayan, Raden Kinarian, Direktur BUMDES Mandiri mengaku terbantu dengan penerapan model Keperantaraan Pasar yang dilaksanakan bersama pemerintah daerah dengan dukungan KOMPAK.

“KOMPAK memfasilitasi penyusunan regulasi dan rencana bisnis serta kelembagaan. Ini  mengacu pada Permendes Nomor 4 tahun 2015 tentang BUMDES, karena pada waktu itu PP 11 tahun 2021 tentang BUMDES belum ditetapkan,” jelas Kinarian.

Menurut Kinarian, model Keperantaraan Pasar menjadi katalis perubahan pengelolaan Desa Wisata. Diantaranya penguatan kelembagaan BUMDES, pemetaan komoditas usaha, pemilihan komoditas, menyusun analisa kelayakan usaha, menyusun rencana usaha, dan program kerja.

“Manajemen BUMDES lebih tertata. Misalnya proses seleksi pengurus dilakukan secara profesional dan transparan. Pemilihan pengurus tidak lagi didasarkan pada hubungan pertemanan atau kekerabatan. Saat ini sudah ada proses seleksi yang jauh lebih baik,” terang Kinarian.

Ia berharap kolaborasi pemerintah daerah, kecamatan, desa dan KOMPAK mampu membuat pariwisata di Lombok Utara kembali menggeliat. Model Keperantaraan Pasar memberi semangat baru dalam pengelolaan potensi wisata di perdesaan. Meski bencana gempa bumi dan pandemi COVID-19 membuat sektor pariwisata terpuruk, Saharudin, Trisna dan Kinarian optimis bahwa kepariwisataan di Lombok Utara akan segera pulih.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
APBD Direvisi, COVID-19 Diperangi

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah memaksa pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, merevisi anggarannya. Refocusing ditempuh untuk men...

Cerita Perubahan
Mendekatkan Layanan, Membuat Setiap Orang Terdata

Betapa senangnya pasangan Darno dan Tursinah. Dua anak mereka, M Zainurrosikin yang lahir pada 2005 dan Hamimah yang lahir pada 2009 akhirnya mendapatkan akta kelahiran secara grat...

Cerita Perubahan
Merintis Perlindungan Sosial Masyarakat Kampung Waren dari SAIK Plus

Di Kampung Waren, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, upaya perlindungan bagi kaum yang termarginalkan itu mulai terwujud sejak hadirnya Sistem Administrasi dan Inform...

Menghadapi

COVID-19