Cerita Perubahan

Perahu Sehat, Masyarakat Bahagia

Author: content pentatone
Published: 16/05/2019

Tenaga kesehatan Puskesmas Sabutung sedang membantu salah satu warga yang memeriksakan dirinya ke puskesmas keliling ‘Perahu Sehat, Masyarakat Bahagia’ (Foto: KOMPAK)

Puluhan orang beriungan di bibir dermaga Pulau Saugi, Desa Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka berkerumun di bawah pondok kayu, berlindung dari terik matahari. Suara ombak dan angin beradu tempat dengan riuhnya cerita dan gurauan. Sosok kapal berkelir biru-putih mendekat. Sebuah spanduk bertuliskan Pelayanan Perahu Sehat Pulau Bahagia Puskesmas Sabutung, terbentang di lambung kiri kapal. 

Ketika tali ditambatkan, kapal pun berlabuh. Dua belas orang tenaga kesehatan dari Puskesmas Sabutung segera melaksanakan layanan kesehatan bagi masyarakat Pulau Saugi yang telah menunggu sejak pagi. Perahu Sehat Pulau Bahagia adalah layanan kesehatan keliling antar pulau yang diselenggarakan oleh Puskesmas Sabutung, Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara. Inisiatif ini digagas Almarhum Muhammad Ruslan, Kepala Puskesmas Sabutung periode 2016-2017 bersama Harmawati, salah seorang stafnya. Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara terdiri dari 7 desa yang tersebar di 13 pulau. Kondisi geografis ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah, salah satunya dalam upaya memenuhi layanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan. “Kita merencanakan ada semacam puskesmas keliling untuk melayani masyarakat di wilayah kepulauan,” tutur Muhammad Ruslan. Menurutnya, puskesmas keliling ini akan mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. “Sekarang ini, masyarakat yang harus datang ke Pulau Sabutung kalau ingin berobat. 

Padahal tidak ada transportasi reguler antar pulau. Masyarakat harus sewa perahu ke Puskesmas Sabutung,” imbuhnya. Situasi ini menyebabkan masyarakat enggan berobat sehingga banyak penyakit yang tidak terdeteksi dan tertangani dengan baik. Muhammad Ruslan dan Harmawati mematangkan gagasannya bersama KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan). Kerja sama ini menghasilkan konsep Perahu Sehat Pulau Bahagia, dimana Puskesmas Sabutung akan menyediakan layanan kesehatan keliling menggunakan perahu bagi masyarakat di tiga belas pulau wilayah Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara. Untuk membuat pendekatan ini lebih operasional dan berkelanjutan, maka Puskesmas Sabutung bersama perwakilan masyarakat dan Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep membuat panduan pelaksanaanya. 

Kerja sama Puskesmas Sabutung dengan masyarakat diperkuat dengan komitmen para kepala desa untuk mendukung biaya operasional Perahu Sehat Pulau Bahagia. Berkat kolaborasi para pihak, program Perahu Sehat Pulau Bahagia dapat terlaksana sejak Februari 2017. Prinsip Perahu Sehat Pulau Bahagia adalah mengarungi pesisir pulau untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Sepeninggal Muhammad Ruslan, Perahu Sehat Pulau Bahagia tetap berjalan di bawah kepemimpinan Sadik Taqwa sebagai Kepala Puskesmas Sabutung sejak Oktober 2017. “Kami tidak memberikan layanan kesehatan di Poskesdes (Pos Kesehatan Desa), namun di dermaga, tepi pantai bahkan di tengah laut bagi nelayan yang membutuhkan,” terang Sadik Taqwa, Kepala Puskesmas Sabutung saat ini. 

Bentuk layanan ini memudahkan tim kesehatan Puskesmas Sabutung untuk cepat bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dimana pelayanan kesehatan dibutuhkan. “Hal ini dikarenakan satu desa bisa terdiri dari tiga sampai empat pulau. Maka mobilitas sangat dibutuhkan,” imbuh Sadik Taqwa. Perahu Sehat Pulau Bahagia menyediakan layanan kesehatan umum, kesehatan gigi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, gizi dan promosi kesehatan. Harmawati, Koordinator Perahu Sehat Pulau Bahagia Puskesmas Sabutung mengatakan bahwa layanan kesehatan ini mampu menjangkau lebih banyak masyarakat. Penyakit dan kasus-kasus kesehatan lainnya dapat ditangani dengan lebih cepat termasuk rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep. Hari itu cukup banyak pasien yang ditangani. 

Salah satunya Tatik (49), yang datang ditemani salah satu anaknya. “Sudah sejak semalam demam,” katanya ketika ditanya. Sembari menunggu giliran, Tatik menyempatkan diri berbincang. Sadik Taqwa mengatakan kesempatan warga berkumpul seperti ini biasanya digunakan oleh promotor kesehatan Puskesmas Sabutung untuk memberikan penyuluhan kepada warga. “Salah satu dampak Perahu Sehat ini adalah meningkatnya partisipasi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Sadik. Ketika tiba gilirannya, Tatik melangkah turun. Kakinya hati-hati menapaki anak tangga dermaga menuju perahu yang tertambat di bawah. Sepuluh menit kemudian ia kembali. Wajahnya berseri, tangannya menggamit lengan anaknya sambil menenteng bungkusan plastik. “Ini dikasih obat, kata dokter ada infeksi tenggorokan,” terangnya sembari beranjak pulang. 

Anas (45), anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Mattiro Baji mengatakan bahwa program Perahu Sehat Pulau Bahagia mempermudah warga untuk mendapatkan layanan kesehatan. “Sebelumnya, kalau sakit belum tentu bisa langsung dibawa ke Sabutung untuk berobat. Harus tunggu kapal. Sekarang dengan Perahu Sehat, dokter sendiri yang datang sehingga orang sakit bisa langsung ditangani,” terangnya. Perahu Sehat Pulau Bahagia dapat berjalan berkat kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya pemerintah desa. Pemerintah desa bersama Puskesmas merencanakan jadwal kunjungan Perahu Sehat. Mereka bertanggung jawab untuk mensosialisasikan jadwal, serta mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan inovatif ini. 

Kolaborasi para pihak ini membuat masyarakat di Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara dapat menikmati kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan. “Alhammdulilah, sekarang bisa ketemu dokter lebih sering,” tutur Sumayanti (30), yang datang memeriksakan kandungannya. Menurutnya, Perahu Sehat memudahkan warga mendapat layanan kesehatan karena ada kasus-kasus kesehatan yang tidak bisa ditangani oleh bidan di Poskesdes. Selepas tengah hari, pelayanan berhenti. Hari itu tercatat 31 pasien ditangani. “Tugas kami bukan hanya mengobati,” terang Sadik Taqwa. Menurutnya, kehadiran layanan dasar khususnya kesehatan bagi masyarakat di wilayah kepulauan adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaan masyarakat pesisir di negeri ini.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Membangun Roh Program PROSPPEK

“Kami percaya data Sistem Administrasi dan Informasi Kampung atau SAIK Plus ini akurat dan selalu diperbaharui karena dikelola oleh kader kampung setempat sehingga bisa menjadi das...

Cerita Perubahan
Aspirasi Masyarakat Sebagai Acuan Prioritas Desa

Sejak 2019, KOMPAK dan SEKNAS FITRA telah mengujicoba mekanisme masukan dari masyarakat, yang dikenal sebagai 'Posko Aspirasi', di 33 desa. Uji coba di Desa Tangkil, Kabupaten Tren...

Cerita Perubahan
Membantu Pemerintah Desa Merencanakan dan Menyelenggarakan Layanan Dasar

“Saya adalah salah seorang fasilitator PTPD. Kami memberikan dukungan ke desa-desa dalam mengembangkan dan mengevaluasi APB Desa [Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa] mereka. Kami...

Menghadapi

COVID-19