Cerita Perubahan

Merintis Perlindungan Sosial Masyarakat Kampung Waren dari SAIK Plus

Author: Fabio Costa / Paulus Enggal Sulaksono / Andhiani Manik Kumalasari
Published: 13/06/2022

Mendiang Bunda Teresa, sang peraih Nobel Perdamaian pada 17 Oktober tahun 1979 pernah berkata “terkadang kita berpikir bahwa kemiskinan hanyalah kelaparan, telanjang, dan tunawisma. Kemiskinan karena tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan adalah kemiskinan terbesar. Kita harus mulai dari rumah kita sendiri untuk mengatasi kemiskinan semacam ini."

Di Kampung Waren, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, upaya perlindungan bagi kaum yang termarginalkan itu mulai terwujud sejak hadirnya Sistem Administrasi dan Informasi Kampung (SAIK) pada 2017 yang kemudian berkembang menjadi SAIK Plus (SAIK+) pada 2019. Aplikasi ini menjadi acuan implementasi program-program penanggulangan masalah sosial yang dialami warga baik di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

SAIK merupakan sistem yang berisi data kependudukan, sosial dan ekonomi setiap warga kampung. Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat mengembangkan sistem ini dengan dukungan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK), sebuah kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia bersama Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI).

Pada Oktober 2019, Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama KOMPAK meningkatkan kemampuan SAIK dengan menambahkan fitur integrasi data antar kampung, distrik, kabupaten dan provinsi yang dapat diakses secara online sehingga data kampung dapat menjadi dasar perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah. Hasil pengembangan ini dinamakan SAIK+. Sampai akhir 2021, terdapat 1.158 kader terlatih tersebar di 579 kampung di Papua Barat yang telah mengadopsi SAIK+. 

Waren termasuk salah satu dari tujuh kampung yang berada di Distrik Momi Waren. Kampung ini berpenduduk penduduk 255 jiwa, yang mendiami wilayah seluas 38,26 km2. Kampung Waren berjarak 24,6 kilometer dari Ransiki, ibu kota Kabupaten Manokwari Selatan. Perjalanan dari Ransiki ke Waren memakan waktu sekitar 40 menit.

Kepala Puskesmas Momi Waren sedang memberikan penjelasan prosedur pemeriksaan kesehatan kepada salah satu warga yang menjadi calon pendonor darah

Tim KOMPAK-LANDASAN mengunjungi Kampung Waren pada 17 hingga 18 Desember 2021. Tim mendatangi Puskesmas Momi Waren sekitar pukul 10.00 WIT.  Saat itu tampak Pieter Taribaba, Kepala Puskesmas Momi Waren sedang memberikan penjelasan prosedur pemeriksaan kesehatan kepada salah satu warga yang menjadi calon pendonor darah. Donor darah merupakan wujud nyata program unggulan di Kampung Waren yakni Bank Darah Hidup. Bank Darah Hidup bersumber dari data jenis golongan darah yang ada di SAIK+.

Bank Darah Hidup memuat data jenis golongan darah warga Kampung Waren secara lengkap. Pengambilan sampel untuk mengetahui jenis golongan darah warga dilakukan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Momi Waren. Hingga 2021, pengambilan data jenis golongan darah telah mencapai 80% dari total jumlah penduduk. Hanya bayi yang baru lahir dan balita yang belum diambil sampel untuk mengetahui jenis golongan darahnya oleh kader kampung.

Kampung Waren pertama kali memulai program ini pada tahun 2017. Program Bank Darah Hidup diinisiasi untuk mengatasi masalah pasien yang kesulitan mendapatkan donor darah seperti penderita anemia dan terutama ibu hamil saat persalinan. “Kami menemukan banyak kasus ibu hamil ketika persalinan dengan kondisi hemoglobin (Hb) darah sangat rendah yakni 8 gram per desiliter. Padahal, angka Hb yang normal minimal 12 gram per desi liter. Kondisi ini sangat membahayakan nyawa ibu saat persalinan,” ungkap Pieter. Ayah tujuh anak ini menuturkan, Pemerintah Kampung Waren mendanai langsung pelaksanaan kegiatan pengambilan sampel darah warga.

Awalnya warga dikumpulkan di balai kampung. Kemudian petugas kesehatan bersama perangkat Kampung Waren mensosialisasikan Bank Darah Hidup dan manfaatnya bagi pelayanan kesehatan warga. Setelah itu, barulah petugas kesehatan melaksanakan pengambilan sampel darah. Hasil pemeriksaan jenis golongan darah kemudian dimasukkan ke dalam SAIK+. Ketika terdapat pasien yang membutuhkan donor darah, maka petugas maka akan memeriksa data golongan darah kerabat atau warga yang sesuai dengan pasien.

“Saya sudah lama mendambakan program Bank Darah Hidup. Sebab dalam pengalaman bekerja selama 16 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Manokwari, belum pernah ada program seperti ini yang meringankan beban warga tak mampu saat membutuhkan donor darah. Di tahun 2009 saja, biaya satu kantung darah bisa mencapai Rp300.000,” ungkap Pieter.

Perlindungan Ibu dan Anak

Selain Bank Darah Hidup, program kesehatan unggulan yang dicanangkan Pemerintah Kampung Waren adalah pemberian makanan bergizi dan vitamin bagi ibu hamil dengan gejala Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan anak yang mengalami gizi kurang hingga gizi buruk. Kondisi ini disebabkan minimnya pemenuhan makanan bergizi dan mengandung vitamin yang dibutuhkan tubuh atau karena menderita penyakit tertentu.

Berdasarkan data Puskesmas Momi Waren hingga Desember 2021, terdapat tiga kasus anak gizi kurang dan dua kasus anak gizi buruk. Sementara dari hasil pendataan terdapat satu ibu hamil di Waren yang mengalami KEK. Data ini dapat diakses melalui SAIK+, sehingga petugas kesehatan dapat dengan mudah mendeteksi ibu hamil dengan KEK dan anak gizi kurang serta gizi buruk. Pendataan ini juga memudahkan puskesmas memberikan penanganan.

Mira Inden, salah satu warga Waren yang mengalami gejala KEK saat hamil kini kondisi tubuhnya tampak bugar. Mira terdeteksi mengalami KEK saat dalam kondisi hamil pada 21 Agustus 2021. Berat badannya saat itu hanya 40 kilogram.

“Saya mendapatkan PMT dan vitamin selama 90 hari.[1] Kini kondisi tubuh saya semakin membaik dan berat badan naik hingga 49 kilogram. Saya pun telah melahirkan dengan selamat dan putri saya kini berusia empat bulan,” tutur ibu berusia 33 tahun ini sambil mengendong anaknya.

Tak jauh dari rumah Mira, seorang anak laki-laki bernama  Ambran Iba sedang bermain di depan rumahnya. Sebelumnya, bocah berusia empat tahun ini juga mendapatkan bantuan PMT dan vitamin saat terdeteksi mengalami gizi buruk dalam kegiatan Posyandu pada 2019. Saat itu, Ambran yang berusia dua tahun hanya memiliki berat badan 6 kilogram saja. Ia tidak aktif sebagaimana teman-teman sebayanya, serta terlihat lesu dan pertumbuhan tinggi badannya terhambat. Bidan pun melaporkan temuan kondisi badan Ambran ke kader kesehatan Kampung Waren.

Berdasarkan pencarian data identitas warga di SAIK+, kader kesehatan kemudian langsung menemui Ambran di rumahnya. Kader pun memfasilitasi Ambran mendapatkan PMT dengan dua kali makan berat dan vitamin selama 90 hari dari petugas Puskesmas Momi Waren. Kemudian setelah 90 hari, Ambran masih mendapatkan PMT secara rutin saat kegiatan Posyandu setiap bulan, berupa kacang hijau, susu, nasi dan lauk pauk.

“Saya sangat bersyukur kini berat badan Ambran meningkat hingga 11 kilogram. Dia pun sudah bergerak aktif seperti anak lainnya. Namun, saya berharap program PMT untuk pemulihan gizi Ambran terus dilakukan hingga kondisi kesehatannya terus membaik,” harap Magdalena Ainusi, ibu Ambran saat ditemui di rumahnya.

Pemberian PMT dan vitamin bagi ibu hamil, anak dan warga lanjut usia bersumber dari Dana Desa Kampung Waren. Pelaksanaan kegiatan itu bersamaan dengan pelayanan Posyandu dan Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu-PTM) di sebuah rumah yang khusus dibangun oleh Pemerintah Kampung Waren.

Rumah pelayanan kesehatan di Waren ini terdiri dari dua tempat tidur bagi tenaga kesehatan, satu tempat pemeriksaan dan satu ruangan untuk pelaksanaan kegiatan seperti PMT. Sebanyak lima kader kesehatan direkrut oleh Pemerintah Kampung Waren. Adapun alokasi Dana Desa untuk pelaksanaan program kesehatan di Waren mencapai Rp40 juta per tahun.

Mendapatkan apresiasi

Tahun 2018 menjadi momen membanggakan bagi Pemerintah Kampung Waren. Sonya Marzhelina Ainusi, Sekretaris Kampung Waren mewakili Pemerintah Provinsi  Papua Barat mempresentasikan dampak positif SAIK+ pada Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) VIII di Makassar, Sulawesi Selatan. Bersama Hengky Tewu, Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Selatan, Sonya memaparkan peranan penting SAIK+ dalam menyediakan data yang menjadi acuan bagi Pemerintah Kampung Waren melahirkan program perlindungan masyarakat.

Selang sebulan kemudian, Kedutaan Besar Australia juga memberikan penghargaan  kepada Pemerintah Daerah Manokwari Selatan karena mendukung penggunaan SAIK+ untuk membangun masyarakat Kampung Waren. Markus Waren, Bupati Manokwari Selatan menerima penghargaan ini langsung dari Allaster Cox, Wakil Dubes Australia untuk Indonesia.

Kader Kampung sedang mendata penerima BLT Dana Desa

“Saya sangat bangga dengan raihan prestasi. Semua berkat kerja keras kader kampung dan respon positif masyarakat saat mengikuti pendataan SAIK+. Sebab, mereka sadar hanya dengan pendataan mereka bisa mendapatkan bantuan seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan mengurus dokumen kependudukan,” ujar Sonya.

Setelah meraih prestasi tersebut, Pemerintah Kampung Waren semakin terpacu memanfaatkan data SAIK+ untuk melahirkan berbagai program khususnya bagi masyarakat miskin dan rentan. Diantaranya BLT bagi 50 keluarga sebesar Rp300.000/bulan, beasiswa bagi pelajar SD YPK Laharoi Waren sebesar Rp300.000/semester, beasiswa bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Momi Waren sebesar Rp2,5 juta/semester, pembangunan dan perbaikan 21 unit rumah serta pembangunan MCK dan sumur bagi 50 rumah warga.      

Apus Ainusi, salah satu penerima BLT sejak tahun 2020 hingga kini mengaku, dirinya baru bisa menerima BLT setelah memiliki kartu keluarga. Kader bersama perangkat kampung membantu Apus Ainusi mengurus kartu keluarganya sehingga ia bisa menerima bantuan sosial pemerintah.

Manfaat SAIK+ juga dirasakan Ghelfin Ainusi. Ia mendapatkan bantuan pembangunan rumah melalui Dana Desa. Sebelumnya, perempuan berusia 26 tahun ini tinggal di rumah semi permanen yang tidak layak huni. “Saya sangat bersyukur berkat SAIK+ ini saya bisa mendapatkan rumah yang bagus dari Dana Desa,” tutur Ghelfin.

Wendy Taribaba, salah satu kader kampung mengatakan, dirinya bersama dua rekan lainnya bertugas  mengambil data  dari setiap keluarga. Mereka mengambil data keluarga, kepemilikan aset, kepemilikan dokumen kependudukan, kondisi kesehatan keluarga, status pendidikan anak sekaligus melakukan verifikasi keluarga yang layak sebagai penerima bantuan sosial. Data ini kemudian dimasukan ke dalam website SAIK+.

“Biasanya saya mendata lima keluarga setiap hari. Kami alokasikan waktu selama tiga hari untuk mengambil data, sementara dua hari sisanya untuk memasukkan data-data tersebut dalam SAIK+,”  tutur Wendy.

Kepala Distrik Momi Waren Welfridus Waroy memaparkan, sudah 100% warga atau 3.261 jiwa di tujuh kampung terdata melalui SAIK+. Data SAIK+ yang terpilah, akurat, dan rinci membantu pemerintah kampung dan distrik menyusun rencana kerja mereka.  

“Kami sangat terbantu dengan data SAIK+  karena memudahkan distribusi bantuan bagi warga serta menyusun rencana pembangunan kampung. Kami berharap SAIK+ menjadi satu-satunya acuan data kependudukan yang digunakan di seluruh wilayah Momi Waren,” harap  Welfridus.

Kristinov Simaela, Koordinator KOMPAK-LANDASAN Manokwari Selatan, menilai, Momi Waren adalah distrik dengan pendataan SAIK tercepat di seluruh wilayah Papua Barat. Hal ini disebabkan tingginya semangat juang para kader dalam pengumpulan data dan sikap warga yang kooperatif terhadap proses pendataan ini.

“Hanya dibutuhkan waktu sembilan bulan bagi para kader di tujuh kampung ini menyelesaikan pendataan, sedangkan pendataan SAIK+ di distrik lainnya memakan waktu rata-rata di atas satu tahun,” ungkap Kristinov.

Sementara Elli Dahlia Kartika Sembor, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Manokwari Selatan, mengaku, data dari SAIK+ membantu pihaknya mempercepat pengurusan dokumen kependudukan yang belum dimiliki warga.

“Apabila dari temuan kader banyak warga yang belum memiliki dokumen kependudukan, maka kami langsung turun menindaklanjutinya. SAIK+ ini mendukung pelaksanaan Program Jebol atau Jemput Bola untuk menjangkau warga yang belum memiliki dokumen kependudukan,” ungkap Elli.  

Yeri Pulungan, Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembanguan Daerah Manokwari Selatan menyatakan SAIK+  mendukung implementasi Otonomi Khusus (Otsus) di Papua Barat. “Dengan SAIK+, kami dapat melakukan verifikasi program yang dijalankan kampung sesuai dengan kondisi warga setempat. Pemerintah daerah tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk melakukan pemetaan kondisi warga. Tinggal membuka SAIK+ dan semua data tersaji dengan lengkap,” tutur Yeri.


[1] PMT: Pemberian Makanan Tambahan

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
APBD Direvisi, COVID-19 Diperangi

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah memaksa pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, merevisi anggarannya. Refocusing ditempuh untuk men...

Cerita Perubahan
Mendekatkan Layanan, Membuat Setiap Orang Terdata

Betapa senangnya pasangan Darno dan Tursinah. Dua anak mereka, M Zainurrosikin yang lahir pada 2005 dan Hamimah yang lahir pada 2009 akhirnya mendapatkan akta kelahiran secara grat...

Cerita Perubahan
Mendekatkan Layanan Adminduk untuk Papua yang Lebih Sejahtera

Dulu, mengurus dokumen kependudukan, bukan hal yang menyenangkan bagi warga Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Seperti yang dialami Mariana Yanuaring. Perempuan 57 tahun...

Menghadapi

COVID-19