Cerita Perubahan

Mendorong Kepemimpinan Perempuan Lewat Akademi Paradigta

Author: Admin
Published: 17/10/2019

Sesi diskusi kelompok di salah satu kelas Akademi Paradigta di Kubu Raya (Foto: KOMPAK)

“Awalnya saya tidak mau ikut Akademi Paradigta. Saya malu. Saya tidak lulus sekolah dasar. Tapi ibu-ibu dari PEKKA mendorong saya untuk ikut,” kenang Aminah (44), warga Desa Sungai Ambangan, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Aminah adalah satu dari 118 peserta angkatan pertama Akademi Paradigta yang diluncurkan di Kubu Raya tahun 2016. Selama kurang lebih satu tahun, ia dan perempuan lainnya dari berbagai desa di Kubu Raya belajar tentang tata kelola pemerintahan desa, peraturan dan anggaran desa, cara untuk dapat terlibat dalam pemerintahan desa dan mengadvokasi pemerintah desa dengan lebih efektif, serta mengenai kepemimpinan dan keterlibatan perempuan di desa.

“Dulu saya tidak tahu dana desa dipakai untuk apa saja. Sekarang saya bisa membaca dan memahami laporan pengeluaran keuangan desa. Karena saya tahu ke mana dana desa dialokasikan, kini saya punya kepercayaan diri untuk bisa mengatakan bagaimana kita harus memanfaatkan dana desa tersebut,” terang Aminah.

Lembaga Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), didukung oleh KOMPAK, mendirikan Akademi Paradigta untuk membangun kapasitas kaum perempuan dan memperkuat kepemimpinan kaum perempuan di desa. 

Akademi Paradigta telah dilaksanakan di 400 desa di 10 provinsi. Sebanyak 2.500 alumninya – yang terus bertambah – berhasil mendorong peningkatan alokasi pendanaan untuk layanan dasar sebesar lebih dari Rp1 miliar. Selain itu, mereka menginisiasi terbitnya 50 peraturan daerah yang berfokus pada masyarakat miskin serta pembangunan yang inklusif gender, termasuk meningkatkan batas usia minimum untuk menikah. 

Koordinator PEKKA untuk Kalimantan Barat Kholilah masih ingat berbagai tantangan yang harus dihadapi di masa awal Akademi Paradigta. “Meyakinkan kepala desa untuk mengalokasikan dana desanya untuk pendidikan perempuan bukan hal yang mudah. Selain tidak adanya landasan peraturan, penggunaan dana desa umumnya lebih difokuskan pada pembangunan infrastruktur desa.”

Namun akhirnya PEKKA berhasil mendapatkan dukungan desa untuk program ini. “Desa membiayai transportasi dan kebutuhan lain untuk para perempuan, sementara PEKKA membiayai mentor dan koordinator pendidikan,” jelas Kholilah. Dukungan juga ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Kubu Raya lewat peraturan bupati agar setiap desa mengalokasikan dana desa sebesar Rp15 juta untuk Akademi Paradigta. 

Desa Limbung termasuk salah satu desa yang mengalokasikan dana desanya untuk pendidikan perempuan. Kepala Desa Limbung Tajudin mengatakan, "Saya ingin warga desa ini maju. Saat mendengar PEKKA mengadakan sekolah untuk perempuan, saya langsung setuju mengirim perwakilan perempuan untuk belajar. Selama ini desa kami kekurangan sumber daya manusia yang mumpuni.”

Sebagai kepala desa, Tajudin merasakan sekali manfaat keberadaan warga perempuan yang belajar tata kelola desa, perencanaan dan anggaran. Selain ide-ide segar yang didapatkan dalam pengelolaan desa, alumni Akademi Paradigta juga selalu siap jika desa membutuhkan bantuan mereka. Advokasi alumni juga mendorong Tajudin meningkatkan anggaran desa untuk kegiatan ini menjadi Rp20 juta per tahun di tahun 2019.

Kemauan Tajudin untuk memajukan kaum perempuan tak lepas dari dukungan Bupati Kubu Raya Muda Hendrawan. Muda menegaskan komitmennya agar warga perempuan di desa lain ikut serta di Akademi Paradigta. “Ada 118 desa di Kubu Raya, tapi baru 42 desa yang mengirim warganya ke Akademi Paradigta. Kami sedang berupaya agar semua desa bisa mengirim warganya ke Akademi Paradigta, sehingga desa-desa menerima manfaat lebih besar dari kontribusi kaum perempuan,” ujar Muda.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Memotong Birokrasi, Meningkatkan Kualitas Layanan

Saukani, dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Bener Meriah, masih ingat betul kerepotan yang terjadi saat memeriksa dokumen Anggaran Pendapatan dan Belan...

Cerita Perubahan
Dokumen Kependudukan Untuk Mengurangi Tingkat Kemiskinan

Salim (65) warga Desa Ngumbul, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, baru memiliki akta kelahiran beberapa bulan lalu. “Dulu di rumah nggak ada yang punya Akta Kelahiran, termasuk anak da...

Cerita Perubahan
Membangun Sekolah Impian

Belasan anak riang berkumpul di halaman belakang Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen Gwereshera (SD YPK Gwereshera), Kaimana, Papua Barat. Mereka sibuk dengan cangkul, sekop d...