Artikel

Membuka Pintu Harapan: Lokakarya Penguatan Bumdes Kabupaten Bantaeng

Author: Admin
Published: 12/03/2017

(Foto: KOMPAK)

"Kami memiliki usaha simpan pinjam untuk membantu kebutuhan modal masyarakat desa," ujar Awaluddin, pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maccini Baji, Desa Bonto Jai, Kecamatan Bisappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, "Namun usaha kami sulit untuk berkembang lantaran kurangnya manajemen yang baik dan komitmen dari pengurus." Situasi Awaluddin lazim ditemui di 18.000 BUMDes yang tercatat di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa). Konsep BUMDes seringkali belum dipahami oleh sebagian besar masyarakat desa sehingga potensi yang dimiliki belum mampu berkembang maksimal untuk memberi manfaat ada pembangunan desa.

Sejatinya, BUMDes adalah usaha desa yang didirikan melalui peraturan desa, yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa dan pengelolanya terpisah dari organisasi pemerintah desa. BUMDes sendiri didirikan untuk menampung seluruh kegiatan di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa. Dalam bidang ekonomi, BUMDes diharapkan dapat meningkatkan perekonomian desa, membuka lapangan kerja serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa.

KOMPAK menanggapi situasi ini dengan menyelenggarakan pertukaran praktik baik BUMDes di Kabupaten Bantaeng yang berlangsung awal bulan Maret 2017. Tujuan lokakarya dua hari ini adalah untuk memberikan orientasi dan informasi pilihan pengembangan ekonomi perdesaan, termasuk BUMDes, agar BUMDes menjadi salah satu aktor penggerak ekonomi desa. Kegiatan ini diikuti oleh 30 BUMDes berkategori sehat dan cukup sehat. Materi lokakarya mencakup tujuan pembentukan BUMDes, proses pendirian, penentuan jenis usaha, manajemen keuangan, manajemen usaha, manajemen kelembagaan, kemitraan, dan peran pemerintah desa dan pendamping BUMDes. Untuk lokakarya ini KOMPAK mendatangkan narasumbernarasumber yang merupakan pengurus BUMDes, kepala desa serta pendamping dan konsultan BUMDes, dan mengajak peserta untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman. KOMPAK juga mempromosikan peran perempuan dan penyandang disabilitas dalam pengembangan BUMDes. Riska, Direktur BUMDes Sipakate’ne, mengatakan bahwa dirinya terkesan dengan unit produksi yang dimiliki oleh BUMDes Layar Terkembang di Pa’jukukang. Dia mengaku ingin menjadikan pola pemilihan dan pengelolaan unit usaha mereka sebagai contoh untuk BUMDes Sipakate’ne. “Saat ini kami sedang merintis unit produksi keripik ubi jalar dan pisang, serta toko alat tulis kantor dengan dukungan dana desa,” terangnya.

Menurut perempuan yang juga menjadi tenaga penyuluh pertanian ini, kunci keberhasilan BUMDes adalah komitmen pengurus, kemauan untuk belajar, serta dukungan dari pemerintah dan masyarakat desa. BUMDes Sipakate’ne sendiri pernah mengalami mati suri lantaran jajaran pengurusnya belum memiliki pengalaman dan kemampuan mengelola unit usaha. Kemampuan mengelola BUMDes harus didukung dengan jejaring, kemitraan dan komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Oleh karena itu, dibutuhkan pengurus yang dapat beradaptasi dengan potensi dan tantangan sektor ekonomi yang terus berkembang. Jejaring dengan pihak-pihak terkait adalah sistem pendukung keberlangsungan BUMDes di masa depan. “Kami mendorong peserta untuk membentuk grup WhatsApp dan memanfaatkan Forum Komunikasi BUMDes Bantaeng sebagai media untuk saling berbagi informasi, konsultasi dan pendampingan antar pelaku BUMDes,” jelas Ton Martono, salah seorang fasilitator yang juga pengurus BUMDes Karangrejek, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Melalui survei penilaian di akhir lokakarya, terlihat bahwa pengetahuan peserta tentang pengelolaan BUMDes meningkat disamping memberi inspirasi untuk mengembangkan BUMDes di desa masing-masing. Lokakarya ini merupakan sebuah langkah awal untuk mewujudkan BUMDes yang kuat serta dapat mendorong kegiatan perekonomian desa. Upaya KOMPAK ini mendapat tanggapan positif dari fasilitator desa dan pemerintah daerah.

Artikel Aktivitas Lainnya

Artikel
Menuju Desa Berdaulat, Melalui Peran Perempuan Yang Kuat

Sejak tahun 2014, PEKKA bersama KOMPAK dan MAMPU memang secara intensif telah melakukan berbagai inisiatif untuk memperkuat perempuan pemimpin di desa

Artikel
Memampukan Perempuan Papua Lewat BANGGA Papua

Perempuan memegang peran kunci dalam program BANGGA Papua. Ibu/wali anak dinilai sebagai orang yang paling tahu kebutuhan anak, termasuk kebutuhan gizi dan kesehatannya.

Artikel
Menjadi Warga Sebenarnya: Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Masyarakat Miskin dan Rentan

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bima meluncurkan inovasi Pelayanan Adminduk untuk Masyarakat Miskin dan Marginal pada bulan Juni 2018.

Menghadapi

COVID-19