Cerita Perubahan

Membangun Sekolah Impian

Author: Admin
Published: 17/10/2019

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar di Provinsi Papua Barat (Foto: KOMPAK)

Belasan anak riang berkumpul di halaman belakang Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen Gwereshera (SD YPK Gwereshera), Kaimana, Papua Barat. Mereka sibuk dengan cangkul, sekop dan gembor. Hari itu, mereka belajar cara menanam singkong dari petugas Dinas Pertanian Kabupaten Kaimana. Bagi anak-anak belajar melalui praktik seperti ini menjadi cara yang efektif dan menyenangkan.

Melalui Program LANDASAN, KOMPAK bekerja untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan dasar lini depan - seperti sekolah dan puskesmas - di 10 kabupaten di Papua dan Papua Barat. Program yang dilaksanakan melalui kemitraan dengan Yayasan BaKTI ini juga mendukung pemerintah daerah dalam perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan layanan dasar.

 “Saya memang menginginkan perubahan di sekolah ini,” terang Elizabet Calarce Lesnussa, Kepala sekolah SD YPK Gwereshera. 

Menurut Elizabet, yang sejak tahun 1998 menjadi guru di SD YPK Gwereshera, ada banyak tantangan untuk mewujudkan sekolah impian.

“Dulu banyak guru yang tidak hadir mengajar. Anak-anak pun demikian. Mereka lebih suka bermain atau diajak orangtua pergi ke kebun. Dukungan dari masyarakat minim sekali,” terang kepala sekolah asal Pulau Buru ini.

Perjuangan Elizabet menggagas perubahan menemukan bentuknya sejak dirinya diangkat menjadi kepala sekolah pada 2014. Perempuan berusia 47 tahun itu memberi contoh kepada rekan-rekan sejawatnya. Ia hadir tepat waktu, turun tangan membersihkan sekolah, memberi perhatian pada perkembangan siswa dan membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar.

Perlahan tapi pasti, perubahan terjadi. Guru-guru mengikuti jejaknya untuk hadir tepat waktu, mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan baik, serta berkomuniksi dengan orangtua atau wali murid.

“Tetapi itu semua belum cukup. Kami membutuhkan dukungan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengelola sekolah. Pada saat itulah KOMPAK datang,” tuturnya.

KOMPAK bersama BaKTI, menyelenggarakan pelatihan tentang standar pelayanan minimum dan manajemen berbasis sekolah. Pelatihan ini membuka mata Elizabet terhadap perubahan yang diperlukan - seperti jumlah guru dan tata kelola sekolah yang baik - untuk  mewujudkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

Melalui pelatihan dan bimbingan selama satu tahun, Elizabet, para guru dan Komite Sekolah membuat banyak terobosan penting. KOMPAK mendukung proses penilaian internal yang dipimpin oleh Elizabet, para guru dan anggota komite sekolah untuk mengetahui apakah sekolah telah memenuhi standar pelayananan minimum.

Berdasarkan hasil evaluasi ini, mereka mengembangkan rencana tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar, manajemen dan administrasi sekolah, serta koordinasi dengan pemerintah desa setempat. Salah satunya dengan menginisiasi pelajaran tambahan membaca, menulis dan berhitung tiga kali seminggu untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar di kelas. Mereka mengaktifkan kembali Komite Sekolah. Bahkan menyediakan ruangan untuk Komite Sekolah sehingga mereka bisa ikut membantu mengawasi siswa sekaligus memudahkan koordinasi dengan masyarakat.

Upaya-upaya tersebut berdampak nyata. Pada tahun 2019, sekolah ini sudah mengantongi akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah. 

Bendahara Komite Sekolah Bernard Inggama mengakui perubahan yang terjadi di sekolah ini. “Dulu SD ini dianggap sekolah buangan. Sekarang jadi sekolah incaran. Banyak orangtua yang ingin anak-anak mereka sekolah disini,” ujar ayah enam anak yang semuanya bersekolah di SD YPK Gwereshera.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Memotong Birokrasi, Meningkatkan Kualitas Layanan

Saukani, dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Bener Meriah, masih ingat betul kerepotan yang terjadi saat memeriksa dokumen Anggaran Pendapatan dan Belan...

Cerita Perubahan
Mendorong Kepemimpinan Perempuan Lewat Akademi Paradigta

“Awalnya saya tidak mau ikut Akademi Paradigta. Saya malu. Saya tidak lulus sekolah dasar. Tapi ibu-ibu dari PEKKA mendorong saya untuk ikut,” kenang Aminah (44), warga Desa Sungai...

Cerita Perubahan
Dokumen Kependudukan Untuk Mengurangi Tingkat Kemiskinan

Salim (65) warga Desa Ngumbul, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, baru memiliki akta kelahiran beberapa bulan lalu. “Dulu di rumah nggak ada yang punya Akta Kelahiran, termasuk anak da...