Cerita Perubahan

Membangun Desa Inklusif Berkeadilan

Author: Admin
Published: 02/08/2017

(Foto: KOMPAK)

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dikenal sebagai daerah ‘tiga dimensi’ dikarenakan wilayahnya yang meliputi pegunungan, daratan rendah dan kepulauan sehingga memiliki tantangan tersendiri dalam melaksanakan pembangunan terutama di desa.  Pada wilayah kepulauan, pembangunan desa yang inklusi menjadi sebuah pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah daerah dikarenakan kondisi geografis yang menantang sehingga memerlukan penanganan dan strategi tersendiri.

Alokasi Dana Desa (ADD) Kabupaten Pangkep untuk tahun 2017 adalah sebesar Rp120 miliar, naik 100% dari tahun 2016 dimana total ADD yang diterima sebesar Rp60 miliar. Jumlah ini dibagikan ke 65 desa di Pangkep, sehingga setiap desa ada yang mendapatkan Rp1,8-2 milliar. Diharapkan dengan adanya peningkatan ADD, maka pembangunan desa yang berpihak kepada rakyat miskin dan rentan akan dapat terlaksana dengan baik. 

Namun kondisi geografis yang menantang dan tidak mudah dijangkau berakibat kepada banyaknya kepala desa yang memerlukan pendampingan dan dukungan dalam penyiapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) agar dapat selaras dengan arah kebijakan pembangunan kabupaten/kota yaitu pengentasan kemiskinan.

(Foto: KOMPAK)

Guna mendukung hal tersebut, KOMPAK bekerjasama dengan mitra TAF-SAPP, YASMIB, untuk membantu pemerintah desa dan daerah dalam proses penyusunan RPJMDes menjadi lebih inklusif dan berpihak kepada masyarakat miskin. Salah satu desa kepulauan yang menjadi lokasi percontohan adalah Desa Matiro Kanjo. 

Kepala desa Matiro Kanjo Musakkir yang baru terpilih pada Desember 2016 mendorong diskusi formulasi rancangan RPJMDes bersama seluruh komponen masyarakat. Diskusi ini dihadiri oleh anggota sekolah perempuan, para pendamping desa, dan penyandang disabilitas. YASMIB, dengan dukungan dari Camat Liukang Tupabbiring Utara membantu perangkat Desa Matiro Kanjo memfasilitasi proses ini.

“Data yang telah berhasil dikumpulkan jangan hanya disimpan, harus kita gunakan agar kita dapat mengenali masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya dalam menyusun RPJMDes yang berpihak kepada masyarakat miskin dan kaum marginal.” Kata Syamsura Syam, Camat Liukang Tupabiring Utara.

Pada Januari 2017, Desa Matiro Kanjo berhasil menyelesaikan rancangan RPJMDes dan telah diajukan kepada pemerintah daerah. Rancangan tersebut mencakup komitmen desa untuk mempromosikan partisipasi kelompok marginal, termasuk penyandang disabilitas. 

Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk dukungan pada kegiatan inklusi sosial seperti pengadaan alat-alat untuk penyandang disabilitas, diseminasi pergerakan masyarakat yang inklusi,  pelayanan kesehatan bagi kelompok lansia dan penyandang disabilitas, pelatihan pelayanan yang inklusif kepada para pemberi layanan bidang kesehatan dan pendidikan, mengumpulkan data statistik penyandang disabilitas yang dapat diakses di kantor desa, serta pembentukan forum untuk keluarga-keluarga penyandang disabilitas.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Jurus Jitu Kabupaten Pekalongan Tekan Kemiskinan

Untuk mempermudah proses pengumpulan dan analisis data serta penentuan intervensi yang akurat, “Laboratorium Kemiskinan” memanfaatkan aplikasi SEPAKAT.

Cerita Perubahan
SIBUBA Memastikan Ibu Hamil Terlayani dengan Tepat

Ibu hamil dengan risiko tinggi di Bondowoso kini mendapatkan pelayanan yang lebih tepat. Aplikasi SIBUBA (Sistem Informasi Ibu dan Bayi) memungkinkan bidan desa memantau setiap keh...

Cerita Perubahan
Keperantaraan Pasar Bantu Tingkatkan Kesejahteraan Petani Biofarmaka

Mulyono (60), petani jahe merah asal Desa Pule, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek menaruh asa pada ikhtiarnya menjadi petani binaan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Sar...

Menghadapi

COVID-19