Cerita Perubahan

Klinik Gampong: Memberdayakan Aparatur Gampong, Memberdayakan Masyarakat

Author: KOMPAK
Published: 07/01/2022

Kapasitas aparatur gampong yang minim sudah tidak lagi menjadi kekhawatiran masyarakat di Kabupaten Bireuen, Aceh berkat adanya Klinik Gampong. Inisiatif pemerintah kabupaten, kecamatan dan KOMPAK ini telah membantu perangkat desa dan kecamatan meningkatkan kemampuannya. Sehingga masyarakat dapat menikmati tata kelola desa yang optimal.


Sejak mulai berkarya di kantor Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireun, Aceh, di tahun 2017, Lindayani merasa resah. Staf Pemberdayaan Masyarakat Gampong (PMG) ini harus melakukan banyak kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, aparatur desa, kader desa dan kegiatan kelembagaan perempuan di desa. Namun kapasitas aparatur gampong (desa) saat itu masih sangat minim dalam memahami regulasi, kebijakan serta teknis pengelolaan desa seperti perencanaan keuangan desa.

“Jarak antara gampong dengan pusat pemerintahan kabupaten menyulitkan koordinasi dan konsultasi aparatur desa dengan pemerintah kabupaten,” tutur Lindayani. Akibatnya, pembinaan aparatur gampong oleh pemerintah menjadi tidak optimal.

Penyusunan rencana dan anggaran sering kali tidak relevan dengan kebutuhan gampong. Demikian juga laporan pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Gampong dan pengelolaan keuangan belum dapat disajikan sesuai standar dan rawan manipulasi.

Klinik Gampong diadakan dua kali dalam setahun dengan kisaran 50 hingga 60 peserta per gampong
(foto diambil sebelum pandemi).

Keresahan Lindayani terjawab ketika pemerintah kabupaten dan kecamatan meluncurkan program Klinik Gampong, sebagai bagian dari program Pengembangan Kapasitas Aparatur Gampong (PKAG), didukung oleh KOMPAK. Klinik Gampong adalah program pengembangan kapasitas pemerintah gampong melalui pelatihan dan bimbingan, koordinasi, konsultasi, dan berbagi informasi, terutama dalam hal perencanaan dan penganggaran untuk dana gampong.

Klinik Gampong terdiri dari Pembelajaran Mandiri Aparatur Desa (PbMAD) yang dilakukan di tingkat gampong, penguatan kapasitas aparatur di kecamatan dan pembekalan teknis yang dilakukan di kabupaten seperti sosialisasi atau orientasi kebijakan secara umum.

Kabupaten, kecamatan, dan pendamping Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Gampong (P3MG) terlibat penuh menyusun program kerja Klinik Gampong. KOMPAK kemudian memberikan penguatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia pengelola Klinik Gampong dalam bentuk pelatihan dan pendampingan serta menyediakan panduan dan modul penguatan kapasitas.

Setelah konsep rampung, Klinik Gampong dibentuk di kecamatan wilayah kerja KOMPAK, salah satunya Kecamatan Simpang Mamplam. Lindayani menjadi Pembina Teknis Pemerintah Gampong (PTPG) yang menjalankan program Klinik Gampong.

Aparatur kecamatan, tenaga pendamping profesional dan lintas sektor unit layanan di kecamatan mulai mengikuti Klinik Gampong dua kali setahun, dengan kisaran 50 hingga 60 peserta per gampong.

“Pertemuan kecil di tingkat kecamatan dilakukan untuk menyelesaikan kendala-kendala pemerintah gampong, selanjutnya membentuk tim teknis di tingkat kecamatan, dari layanan di klinik lalu mulai turun ke gampong dalam hal sosialisasi kebijakan dan dukungan teknis dalam perencanaan dan pembangunan gampong,” Lindayani menjelaskan proses berjalannya Klinik Gampong.

Salah satu peserta pelatihan PTPG adalah staf Kecamatan Simpang Mamplam saat itu, Mursyidi, SH. “Kami belajar tentang tata kelola pemerintahan gampong, terutama perencanaan dan pembangunan gampong,” tutur pria yang kemudian menjabat sebagai camat ini.

“Kami belajar tentang tata kelola pemerintahan gampong, terutama perencanaan dan pembangunan gampong,” tutur Camat Samalanga, Mursyidi, SH tentang pelatihan PTPG yang pernah ia ikuti dulu saat masih bertugas sebagai staf di Kecamatan Simpang Mamplam.

Pelaksanaan Klinik Gampong tidak selalu berjalan mulus. Sebagian besar tim PTPG telah memiliki kepadatan pekerjaannya masing-masing. Kapasitas PTPG, tenaga teknis, pembiayaan dan akomodasi yang terbatas menjadi tantangan tersendiri,” tutur Lindayani yang juga adalah Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Kantor Camat Simpang Mamplam.

Namun Lindayani dapat mengatasinya dengan kerja sama dengan Satuan Kredit Pengembangan Keprofesian (SKPK), pendayagunaan tenaga pendamping profesional, serta pemanfaatan keuangan gampong melalui PbMAD. Hasilnya, banyak kegiatan pemerintah desa bisa diselesaikan dengan cepat dan terstruktur.

“Kegiatan lintas sektor di gampong dan kecamatan menjadi lebih terkoordinasi. Informasi dan regulasi terbaru cepat tersampaikan. Penyampaian kewenangan gampong lebih tersusun dengan baik antar aparatur,” tutur Mursyidi.

“Beberapa kasus dapat diselesaikan melalui pendekatan Klinik Gampong terutama dalam hal pengisian perangkat gampong, penyelesaian pengisian kelembagaan gampong, penyelesaian tapal batas gampong dan penyelesaian sengketa akibat salah paham antara keuchik dengan Badan Permusyawaratan Gampong (BPG),” tambah camat berusia 44 tahun ini.

Berkat peran Klinik Gampong, kegiatan lintas sektor di gampong dan kecamatan menjadi lebih terkoordinasi (foto diambil sebelum pandemi).

Manfaat ini juga langsung terasa oleh masyarakat setempat. Wardiana, tokoh masyarakat Gampong Keude Tambo menuturkan Klinik Gampong sangat berperan baik untuk kemajuan gampong terutama dalam hal peningkatan kapasitas aparatur gampong dan perbaikan tata kelola pemerintahan gampong.

“Banyak sekali dampak untuk gampong, dapat menyelesaikan berbagai permasalahan di salah satunya adalah menyelesaikan administrasi di gampong,” ujar Wardiana yang sehari-harinya bekerja sebagai guru honorer.

Hal-hal terkait administrasi tersebut biasanya terkait dengan sistem pelaporan dan pertanggungjawaban dana gampong, di mana Klinik Gampong kemudian memberikan pendampingan kepada perangkat gampong dalam hal tata usaha dana gampong.

Pria berusia 55 tahun ini awalnya belum paham tentang tujuan dibentuknya Klinik Gampong. Namun seiring waktu, ia merasakan bahwa keberadaan Klinik Gampong sangat berdampak positif untuk pembangunan gampong. Wardiana juga melihat betapa petugas gampong kini lebih dapat berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan di gampong.

Kini, empat kecamatan di Kabupaten Bireuen telah menyusun Standar Pelayanan dan Operasional Klinik Gampong. Mursyidi yang telah pindah tugas menjadi camat di Samalanga pada tahun 2020, membentuk dan mengembangkan Klinik Peutah Gampong di Kecamatan Samalanga.

Pemerintah Provinsi Aceh juga telah menyusun peraturan gubernur tentang pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan gampong untuk memastikan Klinik Gampong dapat berkelanjutan. Pada tahun anggaran 2021, Provinsi Aceh juga telah menyiapkan dana pengoptimalan peran pembinaan gampong oleh kecamatan.

Pada tahun 2021 yang lalu, Pemerintah Aceh juga menyiapkan dana dalam pengoptimalan peran kecamatan dalam membina aparatur gampong untuk pembangunan.

Inisiatif ini didukung oleh Kabupaten Bireuen yang membentuk Tim Koordinasi PKAG Terpadu yang bertugas melakukan perencanaan hingga evaluasi pelaksanaan PKAG terpadu, baik dari sisi anggaran, penguatan kapasitas maupun administrasi.

Masyarakat pun berharap bahwa program Klinik Gampong dapat terus berjalan. “Supaya perangkat gampong lebih bisa melakukan hubungan baik, sehingga apa yang dibutuhkan oleh gampong dapat direspon dengan baik,” tutur Wardiana, yang juga merupakan harapan semua warga Bireuen.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Asa dari PTPD untuk Desa

Sembilan dari dua belas desa di Kecamatan Belik acapkali terlambat mengesahkan RKP Desa dan APB Desa. Padahal kedua dokumen tersebut menjadi kunci utama bagi desa, agar dapat melay...

Cerita Perubahan
PRG Membawa Warga Aceh Sadar Dokumen Kependudukan

Dengan dokumen kependudukan yang lengkap yang difasilitasi oleh Petugas Registrasi Gampong, warga Bireuen kini dapat mengakses pelayanan dasar dan program lainnya yang disediakan p...

Cerita Perubahan
Muni’ah dan Para Migran yang Akhirnya Beroleh Bansos

Keterbatasan tenaga, biaya, dan pengetahuan, membuat para warga pendatang merasa tidak perlu mendaftarkan status kependudukannya. Namun, tanpa mereka sadari hal itu membuat mereka...

Menghadapi

COVID-19