Cerita Perubahan

Keperantaraan Pasar Bantu Tingkatkan Kesejahteraan Petani Biofarmaka

Author: Meita Annissa, Paulus Enggal Sulaksono
Published: 13/07/2021

Mulyono (60), petani jahe merah asal Desa Pule, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek menaruh asa pada ikhtiarnya menjadi petani binaan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Sari Bumi. “Saya sekarang tahu cara menanam jahe merah yang baik. Kalau dulu satu kantong bibit hanya menghasilkan sekitar 5 kg jahe, sekarang bisa sampai 15 kg. Ya otomatis pendapatan saya bertambah,” terangnya.

Meningkatnya produktivitas adalah salah satu manfaat yang dirasakan petani binaan BUMDESMA Sari Bumi setelah Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama program KOMPAK menerapkan pendekatan Keperantaraan Pasar.

Menurut Mulyono, selain panen yang lebih tinggi petani juga menikmati harga jual jahe merah yang lebih baik. “Dulu harga tidak menentu dan ditentukan oleh tengkulak. Biasanya di bawah harga pasar. Sekarang kami bisa menjual jahe merah ke BUMDESMA  dengan harga yang menguntungkan petani,” imbuhnya.

Mulyono adalah satu dari ribuan warga Kecamatan Pule yang menggantungkan hidupnya dari tanaman biofarmaka seperti jahe dan kunyit. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasinya “Kabupaten Trenggalek Dalam Angka” tahun 2018 mencatat, Kecamatan Pule adalah penghasil biofarmaka nomor satu di Trenggalek. Sayangnya, kehidupan petani biofarmaka waktu itu, tidak secemerlang status tersebut.

Petani biofarmaka di Desa Pule membuka lahan untuk menanam bibit jahe merah

Sebagian besar petani biofarmaka di kecamatan ini hidup akrab dengan kemiskinan. Mulyono sendiri sejak tahun 2013 terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), satu daftar yang memuat 40% penduduk dengan tingkat kesejahteraan sosial terendah.

Menurut riset yang dilakukan KOMPAK bersama pemerintah daerah pada Agustus 2018, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan petani biofarmaka tinggal dalam jerat kemiskinan. Diantaranya pola tanam biofarmaka yang masih tradisional sehingga kualitas dan produktivitas panen rendah serta lemahnya daya tawar petani menghadapi permainan harga oleh tengkulak.

Pendekatan Keperantaraan Pasar membawa harapan bagi petani Biofarmaka

Pendekatan Keperantaraan Pasar yang dirintis sejak akhir 2018 membawa harapan bagi petani biofarmaka. Salah satunya dengan memberdayakan BUMDESMA Sari Bumi untuk mengolah biofarmaka menjadi simplisia (rajangan kering) sebagai bahan baku jamu atau obat tradisional. Hasil olahan ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan peluang pasar yang lebih luas.

Terbukti pada awal 2021, BUMDESMA Sari Bumi berhasil menggandeng produsen jamu kenamaan PT. Bintang Toedjoe, untuk mengembangkan budidaya jahe merah. Melalui kerja sama ini Bintang Toedjoe berkomitmen tidak hanya membantu BUMDESMA dalam mengolah dan membeli produk olahan biofarmaka, namun juga membantu petani agar menghasilkan tanaman jahe merah secara lebih produktif dan berkualitas tinggi.

Pengolahan biofarmaka menjadi simplisia oleh BUMDESMA Sari Bumi

Kerjasama ini juga mencakup pembukaan lahan baru seluas 20 hektar untuk ditanami jahe merah. Pendekatan Keperantaraan Pasar akan memprioritaskan keterlibatan petani-petani dengan lahan kecil dengan dukungan pembiayaan dari IGrow, sebuah lembaga pendanaan yang menghubungkan masyarakat pemberi dana untuk modal dan para petani.

“Kami sekarang sudah mempraktikkan penyemaian bibit, melakukan pembersihan lahan, pemupukan yang benar dan memperbaiki sistem pengairan. Insya Allah nanti saat panen bulan Desember, hasil panen jahe merah kami lebih bagus, lebih banyak, dan lebih tinggi harganya,” harap Mulyono lagi.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin sendiri berharap agar model Keperantaraan Pasar ini mampu memotivasi munculnya usaha-usaha produktif yang dapat berkontribusi pada penanggulangan kemiskinan.

“Dengan kerjasama ini, banyak portofolio usaha yang bisa dikembangkan oleh masyarakat khususnya petani jahe. Bisa budidaya jahenya, terus jual beli jahe atau bahkan pengolahan  jahe menjadi simplisia,” ujarnya.

Keperantaraan pasar adalah pendekatan kolaboratif untuk meningkatkan kualitas produk unggulan sehingga menguntungkan masyarakat. Sejak 2018, Bappenas bersama pemerintah daerah, dengan dukungan program KOMPAK, telah menguji coba pendekatan ini di lima provinsi dan tujuh Kabupaten untuk berbagai macam jenis komoditas, mulai dari kerajinan eceng gondok, pengolahan kopi dan teh maupun sabut kelapa, sampai dengan pengolahan biofarmaka dan desa wisata.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Membangun Roh Program PROSPPEK

“Kami percaya data Sistem Administrasi dan Informasi Kampung atau SAIK Plus ini akurat dan selalu diperbaharui karena dikelola oleh kader kampung setempat sehingga bisa menjadi das...

Cerita Perubahan
Aspirasi Masyarakat Sebagai Acuan Prioritas Desa

Sejak 2019, KOMPAK dan SEKNAS FITRA telah mengujicoba mekanisme masukan dari masyarakat, yang dikenal sebagai 'Posko Aspirasi', di 33 desa. Uji coba di Desa Tangkil, Kabupaten Tren...

Cerita Perubahan
Membantu Pemerintah Desa Merencanakan dan Menyelenggarakan Layanan Dasar

“Saya adalah salah seorang fasilitator PTPD. Kami memberikan dukungan ke desa-desa dalam mengembangkan dan mengevaluasi APB Desa [Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa] mereka. Kami...

Menghadapi

COVID-19