Cerita Perubahan

Dewi Nadulang, Sang Pendongkrak Perekonomian

Author: KOMPAK
Published: 06/12/2021

Beberapa hari terakhir, Indah (51) warga Desa Bulakan, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, selalu datang lebih awal ke tempat ia berdagang untuk mempersiapkan lapaknya. Lapak Indah terletak di rest area Candi Batur, Kecamatan Belik.

Hampir dua tahun ia mengandalkan pendapatan hasil dari berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Semenjak adanya penyematan konsep desa wisata berbasis kawasan, Indah mengaku mengalami peningkatan pendapatan.

Indah tak sendiri, di rest area tersebut terdapat tujuh pedagang lainnya yang juga merasakan hal serupa. Ia mengaku setiap akhir pekan bisa mendapatkan Rp500 ribu sehari, dan pada hari biasa Rp200 ribu.

“Semenjak adanya konsep desa wisata berbasis kawasan yang dikenal dengan Desa Wisata Nanas Madu Pemalang (Dewi Nadulang), banyak wisatawan datang ke Kecamatan Belik,” jelasnya. Menurutnya pengunjung yang datang lantaran penasaran ada apa saja di Dewi Nadulang yang ada di Kecamatan Belik.

Dewi Nadulang adalah singkatan dari Desa Wisata Nanas Madu Pemalang. Nanas Madu merupakan buah khas Pemalang dan merupakan komoditas ekspor lokal.

“Sebelumnya ya sepi, adanya Dewi Nadulang membuat wisatawan penasaran untuk datang. Kami juga diuntungkan dengan banyaknya kunjungan wisatawan ke Kecamatan Belik,” ucapnya. Selain banyaknya wisatawan, Indah menerangkan perbaikan lapak para pedagang dan pembenahan fasilitas di kawasan Candi Batur juga dilakukan.

“Sebelum Agustus lalu ada pembangunan fasilitas, dan tempat berdagang kami juga ikut dibenahi. Awalnya tempat berdagang kami hanya tertutup terpal namun kini sudah layak dan permanen karena adanya Dewi Nadulang,” paparnya.

Terbentuknya Dewi Nadulang bukan hal yang tak disengaja. Konsep ini adalah hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kecamatan Belik dan Pulosari, serta KOMPAK, sebuah program kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia. Kolaborasi ini mengusung model Keperantaran Pasar untuk mengembangkan  desa wisata berbasis kawasan.

Dewi Nadulang adalah hasil kolaborasi Pemkab Pemalang, Pokdarwis Kecamatan Belik dan Pulosari, serta KOMPAK, untuk mengembangkan desa wisata berbasis kawasan.

Dewi Nadulang adalah singkatan dari Desa Wisata Nanas Madu Pemalang. Nanas Madu merupakan buah khas Pemalang dan merupakan komoditas ekspor lokal.
(Foto: Dokumentasi dewinadulang.com)

Sampai saat ini, Pemkab Pemalang telah menetapkan 27 desa wisata yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Pemalang.

Pemkab Pemalang juga menerbitkan lima peraturan bupati (perbup) terkait Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP). Perbup ini menjadi landasan hukum untuk memastikan keberlanjutan pengembangan wisata di kabupaten ini. RPKP ini fokus pada pembangunan kawasan wisata yang lebih terarah dan terintegrasi dengan pembangunan kawasan lainnya.

Pada September 2019, KOMPAK bersama Caventer Indonesia - platform edukasi dan promosi tentang pengembangan komunitas dan pariwisata berkelanjutan-melakukan kajian potensi wisata di 11 desa yang ada di Kecamatan Belik. Kegiatan ini bertujuan mendukung implementasi Perbup RPKP Kabupaten Pemalang, khususnya agrowisata nanas madu di Kecamatan Belik.

Kajian tersebut, menemukan sejumlah potensi dan tantangan, seperti penerapan strategi pemasaran wisata nanas madu Pemalang agar akses pasar semakin luas, sehingga mampu menjadi ikon wisata di Kabupaten Pemalang.

Melalui model Keperantaraan Pasar, KOMPAK bersama Caventer Indonesia juga memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang pengelolaan destinasi wisata kepada pelaku pariwisata yang berada di Kabupaten Pemalang. Melalui kemitraan ini diharapkan pengembangan pariwisata di Kabupaten Pemalang bisa lebih berorientasi pasar khususnya di level nasional.

Model Keperantaraan Pasar ini kemudian diujicobakan di Kecamatan Belik (Desa Sikasur dan Bulakan) dan Kecamatan Pulosari (Desa Gunungsari dan Cikedung).

Pesona wisata petualangan 'Via Ferrata Tebing Jimat' Bukit Mendelem di Dewi Nadulang, sebagai salah satu desa wisata utama (Foto: Dokumentasi dewinadulang.com).

Warsito, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Sikasur, mengakui penerapan Keperantaraan Pasar dan konsep desa wisata berbasis kawasan yaitu Dewi Nadulang sangat manjur, dan menjadi magnet wisata baik di Jawa Tengah maupun nasional.

Warsito menambahkan dunia pariwisata semakin berkembang, bahkan Desa Sikasur tengah mengembangkan sejumlah potensi alam yaitu Curug Bengkawah, edukasi pertanian, homestay yang hingga kini berkembang mencapai 25 rumah, perikanan yaitu budidaya ikan koi, serta budaya melalui tarian tradisional.

“Adanya pendampingan dari KOMPAK melalui model Keperantaraan Pasar membuat kami jadi tahu bahwa pengembangan wisata tidak hanya berpatokan pada infrastruktur namun juga pemasarannya. Atas bantuan KOMPAK pengelola wisata juga diikutkan dalam forum bisnis dengan biro-biro perjalanan wisata,” katanya.

Warsito menambahkan bahwa pendampingan KOMPAK mendorong munculnya Destination Management Organisation (DMO), yaitu tata kelola destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis melalui pemanfaatan jejaring, informasi dan teknologi. Dukungan regulasi melalui peraturan desa pun muncul untuk memastikan keberlangsungan Desa Wisata Sikasur.

Menurutnya, model Keperantaraan Pasar mampu mengubah paradigma pengelola desa wisata bahwa ekspansi pasar melalui pengembangan desa wisata berbasis kawasan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan. “Selain itu kami juga belajar memanfaatkan teknologi yaitu dengan mengadakan virtual tour yang mendapat sambutan yang luar biasa dari wisatawan,” imbuhnya.

“Selain itu kami juga belajar memanfaatkan teknologi yaitu dengan mengadakan virtual tour yang mendapat sambutan yang luar biasa dari wisatawan,” ucap Warsito, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Sikasur, Kecamatan Belik.

“Kolaborasi berbagai pihak ini berkontribusi pada peningkatan kunjungan wisatawan ke kawasan Dewi Nadulang. Pada Oktober 2021, tercatat sudah ada 16.000 pengunjung ke Desa Wisata Sikasur yang terintegrasi dengan Dewi Nadulang,” ucap Warsito.

Wisata Virtual Pertama di Jawa Tengah

Wisata virtual Kawasan Dewi Nadulang pertama kali digelar pada Februari 2021 lewat kanal YouTube. Inovasi ini awalnya digagas sebagai media bagi wisatawan untuk tetap dapat berkunjung ke kawasan wisata di tengah pembatasan mobilitas semasa pandemi COVID-19.

“Ya alhamdulilah adanya virtual tour membuat kami masih bergerak meski di tengah pandemi berkat pendampingan yang dilakukan KOMPAK juga,” kata Agus Subekti, Ketua Pokdarwis Desa Bulakan.

Pengalaman wisata yang manis namun menantang, Cubeng Rafting di Air Terjun Bengkwah juga menjadi salah satu daya tarik utama di Dewi Nadulang (Foto: Dokumentasi dewinadulang.com).

Awalnya menurut Agus, para pelaku wisata yang tergabung dalam Dewi Nadulang tak bisa membayangkan adanya wisata virtual dan akan dikunjungi oleh wisatawan.

“Kami juga tidak bisa membayangkan wisata virtual itu seperti apa, masak iya hanya duduk nonton laptop dan bisa berwisata. Namun setelah diedukasi oleh KOMPAK beserta Caventer Indonesia yang ahli di bidang promosi wisata kami jadi paham, bahwa wisata virtual bisa menjadi potensi dan ada segmen yang mau membayar untuk itu,” paparnya. Inovasi ini membuat masyarakat dan pengelola desa wisata tetap mampu memperoleh pemasukan.

“Dalam virtual tour kami bisa mendapatkan minimal Rp50 ribu untuk satu orang penonton. Jadi wisata berbasis kawasan bisa menghidupi beberapa desa apalagi lewat virtual tour,” jelas Agus. Menurutnya, konsep desa wisata berbasis kawasan memberi manfaat kepada lebih banyak masyarakat. “Karena konsep ini mempromosikan potensi wisata di satu kawasan, bukan hanya satu desa saja,” tambahnya.

Desa Wisata Berbasis Kawasan Motor Penggerak Perekonomian

Sementara itu, Sigit, Kepala Desa Bulakan, Kecamatan Belik menuturkan, banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan di wilayah selatan Kabupaten Pemalang yang awalnya belum dikelola secara maksimal.

“Adanya pendampingan membuat kami sadar bahwa potensi wisata yang ada bisa mendongkrak perekonomian desa. Apalagi saat dicetuskan Dewi Nadulang dan banyak yang terlibat di dalamnya, kami jadi sadar harusnya desa wisata dikelola melalui konsep kawasan seperti edukasi yang ditanamkan oleh KOMPAK dan Caventer Indonesia,” ucap Sigit.

Melihat gerakan dan inovasi yang sudah berlangsung, Sigit secara terbuka menyatakan dukungannya, bahkan penganggaran melalui Dana Desa juga digelontorkan untuk mendukung terciptanya pengembangan kawasan wisata Dewi Nadulang.

Keindahan Air Terjun Bengkwah berhasil meraih Juara 3 Desa Wisata Award 2021
(Foto: Dokumentasi dewinadulang.com)

“Pendanaan kami keluarkan, untuk memperbaiki sejumlah tempat wisata seperti di Candi Batur dengan anggaran Rp300 juta. Karena kami sadar adanya Dewi Nadulang lewat peran serta desa dan sejumlah pihak bisa mendongkrak perekonomian masyarakat,” terang Sigit.

Komitmen untuk melakukan pendampingan desa wisata berbasis kawasan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Pemalang.

Sinergi itu diwujudkan untuk mendamping lima desa wisata di wilayah Kabupaten Pemalang bagian selatan selama tiga bulan dari Maret hingga Mei 2021.

Menurut Arzia Rosyada, Kepala Bidang Promosi Disparpora Kabupaten Pemalang, pendampingan ini membuka mata pemerintah daerah terhadap kebutuhan pengembangan desa wisata. “Meski demikian karena keterbatasan anggaran kami tidak bisa melakukan promosi secara maksimal. Namun kami beruntung karena KOMPAK bersama Caventer Indonesia memfasilitasi promosi wisata berbasis kawasan yang ada di Kabupaten Pemalang,” terangnya.

Arzia mengatakan, bersama KOMPAK Pemda melakukan sharing anggaran, hingga menggelar bisnis meeting yang mendatangkan biro wisata skala Nasional.

“Hasilnya fun trip dalam bentuk paket wisata ke lima desa yang masuk dalam Dewi Nadulang dilakukan. Gayung bersambut Dewi Nadulang juga mengikuti BCA Award dan memperoleh juara tiga, hal itu membuat wisatawan penasaran dan berdatangan ke Pemalang,” paparnya.

Dalam ajang BCA Award, Arzia menerangkan satu-satunya desa wisata yang menerapkan konsep desa wisata kawasan hanya Dewi Nadulang.

“Poin plus buat Dewi Nadulang yang menerapkan desa wisata berbasis kawasan, dan bisa jadi acuan untuk daerah lain untuk menerapkan hal serupa,” kata Arzia.

Titik Widiastuti, Kepala Bidang Ekonomi dan SDA Bappeda Kabupaten Pemalang, juga mengakui kolaborasi KOMPAK dengan pemerintah daerah sangat berdampak pada penataan pariwisata.

"Kolaborasi pemerintah daerah bersama KOMPAK sangat memberi dampak pada penataan pariwisata di Pemalang," tutur Titik Widiastuti, Kepala Bidang Ekonomi dan SDA Bappeda.

“KOMPAK membantu kami dalam hal penataan sistem, mengubah perilaku masyarakat, birokrasi sampai software-nya. Dan hasilnya adalah Dewi Nadulang. Ke depan konsep desa wisata berbasis kawasan juga akan kami terapkan untuk lokasi lainya,” imbuhnya.

Titik menambahkan lewat desa wisata berbasis kawasan, roda perekonomian di Kabupaten Pemalang ikut bergerak meski di tengah kondisi sulit.

“Sebagai contoh pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pemalang 2019-2020 di angka 5,8%. Kondisi terpuruk saat pandemi pada 2020 meski minus namun pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pemalang masih tiga terbesar di Jawa Tengah,” imbuhnya. “Gagasan dari KOMPAK mengenai Keperantaraan Pasar sangat membantu kami untuk mengembangkan desa wisata dan terbukti berkontribusi mendongkrak perekonomian,” tutupnya.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Asa dari PTPD untuk Desa

Sembilan dari dua belas desa di Kecamatan Belik acapkali terlambat mengesahkan RKP Desa dan APB Desa. Padahal kedua dokumen tersebut menjadi kunci utama bagi desa, agar dapat melay...

Cerita Perubahan
Klinik Gampong: Memberdayakan Aparatur Gampong, Memberdayakan Masyarakat

Dulu, koordinasi dan konsultasi aparatur gampong dengan pemerintah kabupaten terkendala karena letak geografis. Namun situasi telah jauh berbeda, aparatur gampong kini dapat menyel...

Cerita Perubahan
PRG Membawa Warga Aceh Sadar Dokumen Kependudukan

Dengan dokumen kependudukan yang lengkap yang difasilitasi oleh Petugas Registrasi Gampong, warga Bireuen kini dapat mengakses pelayanan dasar dan program lainnya yang disediakan p...

Menghadapi

COVID-19