Cerita Perubahan

Data yang Mengubah Tanah Papua

Author: Fibria Heliani
Published: 26/05/2017

(Foto: KOMPAK)

Data adalah dasar perencanaan pembangunan sekaligus bukti sebuah pembangunan,” terang Hengky Veky Tewu, Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Sayangnya menurut Hengky, data yang memiliki peran penting tersebut menjadi kemewahan bagi sebagian wilayah Papua dan Papua Barat. Tantangan untuk memiliki basis data komprehensif di Papua Barat adalah kondisi geografis dan ketersediaan sumber daya manusia. 

“Dulu kita membangun sekolah tanpa memiliki data akurat tentang jumlah anak usia sekolah. Akibatnya sekolah kosong dan terbengkalai karena tidak ada murid,” jelasnya.

Pengalaman Hengky saat ini tinggal kenangan semenjak Sistem Administrasi dan Informasi Kampung (SAIK) dan Sistem Administrasi dan Informasi Distrik (SAID) diperkenalkan melalui program KOMPAK-LANDASAN II. SAIK merupakan sistem berbasis web yang berisi data kependudukan, sosial dan ekonomi setiap warga kampung. Sistem ini dapat beroperasi secara offline sehingga bisa dioperasikan di daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki infrastruktur telekomunikasi. 

“SAIK dan SAID menjadi solusi yang tepat karena sistemnya sederhana dan memberdayakan sumber daya lokal,” ungkap Hengky. 

Hal ini diakui oleh Sonya Ainusi, Kader Kampung Waren, Distrik Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. “Kami mendapat pelatihan dasar tentang komputer sebelum dikenalkan dengan SAIK,” terangnya. Menurut perempuan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kampung ini, SAIK mudah digunakan sehingga data-data warga kampung dapat dimasukan ke dalam sistem oleh para kader sendiri. 

Kekuatan SAIK dan SAID memang tidak lepas dari peran kader di masing-masing kampung. Hingga kini program KOMPAK-LANDASAN II telah melatih 443 kader, 112 diantaranya perempuan yang tersebar di 225 kampung di Papua dan Papua Barat. Kader SAIK dilatih untuk tidak saja mahir menginput data namun memanfaatkan data untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat. 

Sonya Ainusi mengalami sendiri bagaimana data kesehatan seperti golongan darah dapat menyelamatkan nyawa. “Sa sebagai perempuan, sa pikir sekali. Karna kadang ada mama-mama mau melahirkan tak ada darah. Sa bicara biaya, belum cari orang, belum transfusi, mahal sekali,” tuturnya. Melihat hal ini, pemerintah kampung, Puskesmas Waren bersama kader bergerak mengumpulkan data golongan darah masyarakat. Data ini menjadi Bank Darah Hidup yang dapat diakses oleh kader kampung maupun Puskesmas bila ada masyarakat yang membutuhkan transfusi darah.

SAID dan SAIK menghubungkan sektor dengan layanan. SAID dan SAIK memuat data kependudukan, sosial dan ekonomi penduduk distrik, serta cakupan layanan Puskesmas dan sekolah dasar. Data ini menjadi bahan bagi pemerintah dalam merencanakan dan mengalokasikan dana di tingkat kabupaten dan desa agar program yang dihadirkan tepat sasaran – sehingga layanan seperti kesehatan, pendidikan dan layanan dasar lainnya dapat dihadirkan dengan lebih baik lagi.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Membangun Roh Program PROSPPEK

“Kami percaya data Sistem Administrasi dan Informasi Kampung atau SAIK Plus ini akurat dan selalu diperbaharui karena dikelola oleh kader kampung setempat sehingga bisa menjadi das...

Cerita Perubahan
Aspirasi Masyarakat Sebagai Acuan Prioritas Desa

Sejak 2019, KOMPAK dan SEKNAS FITRA telah mengujicoba mekanisme masukan dari masyarakat, yang dikenal sebagai 'Posko Aspirasi', di 33 desa. Uji coba di Desa Tangkil, Kabupaten Tren...

Cerita Perubahan
Membantu Pemerintah Desa Merencanakan dan Menyelenggarakan Layanan Dasar

“Saya adalah salah seorang fasilitator PTPD. Kami memberikan dukungan ke desa-desa dalam mengembangkan dan mengevaluasi APB Desa [Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa] mereka. Kami...

Menghadapi

COVID-19