Cerita Perubahan

Bulu Cindea Menyambut Perubahan Melalui KKN Tematik UMD

Author: Nurdin Amir (penulis); Andhiani, Paulus Enggal (editor)
Published: 08/06/2022

Wajah Desianti terlihat suram hari itu. Untuk kesekian kali, warga Desa Bulu Cindea Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan ini, mendapat kabar bahwa harga garam kembali anjlok. Desianti adalah satu dari ratusan ibu rumah tangga di Bulu Cindea yang menggantungkan hidup keluarga mereka dari pendapatan suami sebagai petani garam.

Di Bulu Cindea, produksi garam memang berlimpah. Namun hal ini tidak membuat hidup Desianti dan warga Bulu Cindea lainnya sejahtera. “Garam banyak disini. Tapi harganya murah sekali. Biasa hanya dihargai Rp30.000 satu karungnya. Isi 50 kilo karung beras,” ujar perempuan yang biasa disapa Desi itu. Sering kali terpetik keinginan Desi untuk ikut bekerja membantu perekonomian keluarga. Namun ia bingung, apa yang bisa ia lakukan.

Secercah asa terbit di 2019, ketika Desi mendapat tawaran untuk bergabung dalam kelompok wirausaha yang mengolah garam menjadi produk bernilai jual lebih baik seperti garam spa dan garam beryodium tinggi. Kelompok itu mendapat pelatihan dari mahasiswa yang menjalankan Kuliah Kerja Nyata atau KKN.

Kelompok perempuan Desa Bulu Cindea belajar membuat garam spa yang harga jualnya lebih tinggi dari garam dapur biasa

Desi menjelaskan, setengah karung garam biasa setelah diolah bisa menghasilkan 25 liter garam spa. Garam ini dikemas dalam berbagai ukuran dan dijual dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp25.000. Kegiatan ini mampu menambah penghasilan para petani garam."Alhamdulillah banyak ji. Hasil bisa sampai Rp2 juta, waktu ada pameran perikanan,” kata Desianti.

Selain pengolahan garam, kelompok perempuan di Bulu Cindea juga mendapat pelatihan membuat nugget dan bakso berbahan baku ikan bandeng yang sumbernya cukup berlimpah. Meski skalanya masih sangat kecil, namun usaha ini mampu membantu menambah penghasilan keluarga. “Produksi masih disesuaikan dengan permintaan. Harga jual antara Rp20.000 hingga Rp25.000,” ujar Ernawati, salah seorang pembuat nugget dan bakso.

Berawal dari KKN Tematik UMD

Perubahan yang terjadi di Bulu Cindea berawal dari kehadiran Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Membangun Desa (UMD) yang diinisasi KOMPAK bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) sejak 2016. Model UMD bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan KKN yang rutin dilakukan mahasiswa sebagai salah satu syarat kelulusan, agar dapat lebih berkontribusi terhadap pembangunan desa, komunitas dan pemerintah daerah setempat dimana kegiatan dilaksanakan.

Di Bulu Cindea, KKN Tematik UMD dimulai pada 2019 yang digawangi oleh Universitas Jember bersama dengan beberapa universitas lain di Sulawesi Selatan seperti Universitas Fajar Makassar dan Universita Megarezky Makkassar. KKN Tematik UMD ini, mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pangkep. Sebelum memulai KKN Tematik, mahasiswa bersama segenap pemangku kepentingan di desa dan kecamatan melakukan musyawarah untuk memastikan kegiatan ini sesuai dengan kebutuhan desa.

Mahasiswa Universitas Jember memaparkan hasil kegiatan KKN Tematik UMD dihadapan Pemerintah Desa Bulu Cindea, Pemerintah Kabupaten Pangkep, perwakilan Kedutaan Australia dan masyarakat setempat.

Keterlibatan masyarakat dalam musyawarah dan sosialisasi pemberdayaan desa sebelumnya tidak menarik perhatian. Bulu Cindea memang sering menjadi lokasi kegiatan KKN mahasiswa. Namun hadirnya KKN Tematik UMD dengan program yang inovatif membawa magnet tersendiri bagi warga, termasuk kelompok perempuan. Ketertarikan warga timbul karena mahasiswa memahami kebutuhan yang diinginkan dan mampu menjawabnya melalui beragam inovasi kegiatan.

H. Muksin, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Bulu Cindea mengungkapkan KKN tematik UMD membuka perspektif masyarakat tentang potensi yang dimiliki desa. “Mahasiswa ini mengumpulkan kelompok ibu-ibu untuk membuat produk unggulan yang punya nilai jual. Misalnya, pembuatan tas dan pot bunga dari limbah plastik yang melimpah,” ungkapnya.

Muksin mengungkapkan KKN Tematik UMD menghapus wajah lama Kuliah Kerja Nyata yang dinilai tidak membawa dampak nyata bagi masyarakat. Kerja bakti, membersihkan kuburan dinilai masyarakat sudah usang, dan perlu ada perubahan pendekatan yang dilakukan dengan melihat kebutuhan masyarakat.

“KKN Tematik UMD lebih tertata, program yang dilakukan mendorong perubahan di masyarakat. Apa yang dilakukan sangat membantu pemerintah desa dengan membuat konsep bersama untuk kemajuan desa. Mulai dari riset potensi desa, membuat pelatihan hingga bagaimana memanfaatkan dana desa untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat,” ujar Muksin.

Desa Wisata dan Peningkatan Pelayanan Desa untuk Warga

Kehadiran KKN Tematik UMD juga menyasar pengembangan potensi wisata di Bulu Cindea. Mahasiswa bersama warga, terutama pemuda mencoba mengelola wisata mangrove Bulu Cindea. “Mahasiswa membantu mendesain inovasi pengembangan wisata mangrove serta membantu pemerintah desa mengelolanya, sehingga bisa menarik wisatawan,” imbuh Muksin.

Meski pelaksanaan KKN Tematik UMD sempat terhenti karena pandemi, namun pendekatan yang dilakukan para mahasiswa terus dirawat oleh para pemuda penggiat wisata di Bulu Cindea. “Konsep yang dibuat saat KKN dulu masih kita pakai. Melalui program peningkatan ekowisata yang ada di desa, sehingga Desa Bulu Cindea bisa menjadi juara harapan satu se-Sulawesi Selatan,” terang Muhammad Ridwan, Ketua Kelompok Pemuda Sadar Wisata Bulu Cindea.

Wisata Hutan Mangrove Biring Kassi yang dikelola Pemerintah Desa Bulu Cindea menghadirkan beragam spot unik yang instagramable

Selain berfokus pada pengembangan ekonomi lokal, KKN Tematik UMD di Bulu Cindea juga membantu desa meningkatkan pelayanan serta kapasitas perangkat desa terkait Sistem Administrasi dan Informasi Desa. Mereka menghasilkan berbagai terobosan seperti pemanfaatan teknologi untuk mengurus surat yang dibutuhkan warga. Proses administrasi dan pendataan di Bulu Cindea yang awalnya masih manual, perlahan mulai bergeser menjadi digital.

“Jadi masyarakat yang membutuhkan surat keterangan dari desa, seperti keterangan tidak mampu atau kematian bisa mengirim data melalui hp. Setelah selesai, kita akan informasikan kepada yang bersangkutan bahwa surat sudah bisa diambil di kantor desa,” terang Made Ali, Kepala Desa Bulu Cindea.

Made Ali menambahkan bahwa kegiatan KKN ini juga mencakup pelatihan bagi perangkat desa tentang cara menggunakan aplikasi digital. “Untuk mengakses aplikasi tersebut, warga hanya melampirkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Jika NIK tidak sesuai dengan data yang ada di kantor desa, maka dia tidak bisa masuk,” imbuhnya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, program KKN Tematik UMD juga membantu pemerintah desa melakukan pendataan, untuk memastikan semua warga Bulu Cindea telah memiliki NIK.

Hadirnya teknologi informasi bagi layanan publik disambut baik Ikhwanuddin Jaya, tokoh masyarakat Bulu Cindea. “Pemanfaatan teknologi mampu mengatasi keterbatasan sumber daya manusia, sehingga pelayanan tetap bisa diberikan dengan cepat, tepat atau pelayanan prima kepada masyarakat,” ungkap Ikhwanuddin.

Dukungan Pemerintah Kabupaten untuk KKN Tematik UMD

Pemerintah Kabupaten Pangkep telah mengadopsi model KKN Tematik UMD sejak 2019 melalui penandatangan nota kesepahaman dengan sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan. Abdul Gaffar, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pangkep, menyebut, pelaksanaan KKN Tematik UMD telah menghasilkan tradisi kerja kolaboratif.

Selain itu, tambahnya, perguruan tinggi juga ikut berbenah dengan berupaya mengubah pola pembelajaran dan materi yang sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. “Tradisi kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun menjadi semakin baik dengan mengoptimalkan sinergi bersama mitra terkait termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perguruan tinggi,” sebutnya.

Untuk memastikan keberlanjutan KKN Tematik UMD, pemerintah menurut Abdul juga telah mengeluarkan Surat Keputusan Tim Teknis Pelaksanaan KKN Tematik UMD, dimana OPD terkait seperti Bappeda, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) maupun Dinas Kesehatan  menjadi bagian dalam tim teknis tersebut.

“Harapannya, KKN Tematik UMD dapat membantu desa membangun data yang lebih akurat, menggembangkan potensi desa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai lokomotif penggerak ekonomi kerakyatan. KKN Tematik UMD ini juga mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan menanggulangi kemiskinan,” pungkas Abdul.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
APBD Direvisi, COVID-19 Diperangi

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah memaksa pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, merevisi anggarannya. Refocusing ditempuh untuk men...

Cerita Perubahan
Mendekatkan Layanan, Membuat Setiap Orang Terdata

Betapa senangnya pasangan Darno dan Tursinah. Dua anak mereka, M Zainurrosikin yang lahir pada 2005 dan Hamimah yang lahir pada 2009 akhirnya mendapatkan akta kelahiran secara grat...

Cerita Perubahan
Merintis Perlindungan Sosial Masyarakat Kampung Waren dari SAIK Plus

Di Kampung Waren, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, upaya perlindungan bagi kaum yang termarginalkan itu mulai terwujud sejak hadirnya Sistem Administrasi dan Inform...

Menghadapi

COVID-19