Cerita Perubahan

Berlayar Bersama Kelas Harapan

Author: Fibria Heliani
Published: 17/10/2019

(Foto: KOMPAK)

Dua belas anak sibuk mengerjakan soal matematika. Hari itu mereka belajar tentang perkalian. Sepuluh soal tertulis di 'whiteboard' kumal penuh coretan, terpasang di dinding kelas warna kuning yang sudah terkelupas di sana-sini. Kegaduhan kelas sebelah tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk menyelesaikan tugas siang itu. Kelas sebelah itu sejatinya ruang sebelah yang dibatasi sekat tripleks tipis. Angin laut yang masuk di sela-sela jendela tanpa kaca, tidak mampu mengusir panas dan pengap. Dari balik jendela, terhampar pemandangan Laut Sulawesi, lengkap dengan deretan kapal nelayan yang tertambat di dermaga, terombang-ambing angin musim timur.

Laut Sulawesi adalah tumpuan kehidupan bagi masyarakat nelayan di Pulau Sakuala, tempat SD Negeri 23 Sakuala di Desa Mattiro Bombang berada. Pulau Sakuala adalah satu dari 16 gugusan pulau di Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Sebagian besar dari 100 kepala keluarga masyarakat Pulau Sakuala adalah nelayan 'renreng' dengan tingkat pendidikan mayoritas adalah tamat Sekolah Dasar (SD).

“Memang, bagi sebagian masyarakat di wilayah kepulauan ini, mencari nafkah dengan melaut itu lebih penting dibandingkan sekolah,” terang Rukmini, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Pendidik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep. Menurut catatan Dinas Pendidikan, angka putus sekolah, khususnya SD dan SMP di Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara termasuk yang paling tinggi di Kabupaten Pangkep. Samsuar (40), salah seorang warga Sakuala membenarkan informasi tersebut. “Anak-anak itu kan membantu kita pergi ke laut. Pulang sudah capek dia, sering juga terlambat ke sekolah,” tuturnya. “Daripada sering terlambat atau nggak masuk sekolah, ya kita minta anak kita nggak usah sekolah. Nggak enak sama ibu gurunya,” imbuh Samsuar.

SD Negeri 23 Sakuala sendiri memiliki 75 siswa. Namun tidak semuanya mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara teratur. Kepala Sekolah SDN 23 Sakuala Syukri Darmawan mengatakan bahwa semua anak didiknya memiliki tanggung jawab untuk membantu orang tua mereka mencari nafkah. “Sebagian besar kembali ke sekolah, tetapi sebagian lagi kadang datang, kadang tidak,” tuturnya. Menurut kepala sekolah yang sudah bertugas selama 4 tahun di SDN 23 Sakuala ini, anak-anak memilih tidak masuk sekolah karena malu tertinggal pelajaran dari teman-teman sekelasnya. Situasi ini menjadi salah satu penyebab tingginya angka putus sekolah di wilayah kepulauan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep mencatat bahwa pada tahun ajaran 2016/2017 terdapat 179 siswa SD dan SMP yang pergi melaut di Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara. Sebanyak 29% diantaranya, atau sebanyak 52 siswa terpaksa putus sekolah.  Hal inilah yang mendorong Dinas Pendidikan untuk melahirkan inovasi Kelas Perahu. Kelas Perahu pada dasarnya adalah model pembelajaran mandiri, dimana siswa menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan belajar selama pergi melaut.

“Kami menyiapkan LKS bagi anak-anak yang akan pergi melaut. LKS ini disesuaikan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),” jelas Amalia, salah seorang guru honorer di SDN 23 Sakuala. Guru memberikan LKS ini dalam kelas bimbingan tambahan, khusus bagi siswa program Kelas Perahu. LKS ini dikerjakan oleh siswa selama melaut dan dikumpulkan pada saat mereka kembali. “Ketika anak-anak kembali, kami sama-sama membahas LKS tersebut. Sehingga anak-anak yang harus pergi melaut tidak ketinggalan pelajaran,” tambah Amalia.

Dari Pulau Sakuala sendiri, sedikitnya ada 15 siswa yang mengikuti program Kelas Perahu. Yusuf (13) dan Riska (13) ada diantaranya. “Saya senang ada Kelas Perahu. Saya bisa tetap bisa membantu orangtua sambil belajar,” tutur Yusuf. Yusuf mengerjakan LKS disela-sela aktivitas melaut bersama sang ayah. “Biasa abis kasih turun perangkap kepiting saya belajar. Nanti subuh baru angkat lagi perangkap kepiting,” terangnya. 

Sementara Riska, yang sudah membantu ayahnya melaut sejak sebelum usia sekolah, mengatakan dirinya terbantu dengan bimbingan khusus yang diberikan bagi murid-murid Kelas Perahu. Bimbingan khusus ini membuatnya bisa tetap mengikuti pelajaran. “Sejak ada Kelas Perahu, saya bisa lanjut SMP. Saya ingin terus sekolah sampai universitas,” ungkapnya.

Saat ini, Kelas Perahu yang sudah dilaksanakan di 19 Sekolah Dasar dan 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP) berhasil menurunkan angka putus sekolah siswa yang melaut pada tahun ajaran 2017/2018, menjadi 27 orang (15%).

“Kelas Perahu sudah ada di semua pulau, dari Salemo, Karanrang, Smatallu, Sagara, Satando, Sabutung, Sakuala, Polewali, Sapuli, Sabangko, Laiya dan Saugi,” terang Rukmini. Menurutnya, keberhasilan Kelas Perahu adalah berkat kerjasama beberapa pihak, baik pemerintah dan masyarakat, serta pihak-pihak yang peduli pada pendidikan. “Salah satunya adalah KOMPAK. KOMPAK adalah mitra kami dalam menyusun dan mengembangkan inovasi Kelas Perahu ini,” tambah Rukmini.

“Saya mendukung Kelas Perahu. Soalnya dulu lebih baik saya kasih keluar anak saya dari sekolah. Habis tidak ada waktu lagi dia ke sekolah,” tutur Antok (35), salah seorang orangtua murid. Menurutnya, Kelas Perahu adalah bukti keseriusan pemerintah untuk memajukan kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan. “Karena pendidikan itu adalah hak semua anak Indonesia, termasuk anak-anak nelayan di wilayah kepulauan,”imbuhnya.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
Membangun Roh Program PROSPPEK

“Kami percaya data Sistem Administrasi dan Informasi Kampung atau SAIK Plus ini akurat dan selalu diperbaharui karena dikelola oleh kader kampung setempat sehingga bisa menjadi das...

Cerita Perubahan
Aspirasi Masyarakat Sebagai Acuan Prioritas Desa

Sejak 2019, KOMPAK dan SEKNAS FITRA telah mengujicoba mekanisme masukan dari masyarakat, yang dikenal sebagai 'Posko Aspirasi', di 33 desa. Uji coba di Desa Tangkil, Kabupaten Tren...

Cerita Perubahan
Membantu Pemerintah Desa Merencanakan dan Menyelenggarakan Layanan Dasar

“Saya adalah salah seorang fasilitator PTPD. Kami memberikan dukungan ke desa-desa dalam mengembangkan dan mengevaluasi APB Desa [Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa] mereka. Kami...

Menghadapi

COVID-19