Cerita Perubahan

BANGGA Papua, Jalan Membangun Generasi Emas Papua

Author: KOMPAK
Published: 08/03/2022

BANGGA Papua atau Bangun Generasi dan Keluarga Papua Sejahtera merupakan langkah inovatif Pemerintah Provinsi Papua dalam memanfaatkan dana Otonomi Khusus (Otsus) secara lebih efektif. BANGGA Papua menyasar anak asli Papua berusia kurang dari empat tahun sebagai penerima manfaat. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak tersebut sekaligus mendukung visi-misi Pemprov Papua yang memang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya Orang Asli Papua.

Melalui program BANGGA Papua, mama-mama di Kabupaten Asmat, Lanny Jaya, dan Paniai mampu memberikan asupan bergizi bagi anak-anak mereka
(foto dokumentasi BaKTI)

Gizi buruk dan stunting masih menjadi ancaman yang membayangi kehidupan Orang Asli Papua (OAP). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2017, tingkat gizi kurang dan stunting untuk anak usia 0–59 bulan di provinsi ini masing-masing adalah 6,8% dan 15,9%, tertinggi kedua di Indonesia. Bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua, komitmen untuk mengatasi masalah memprihatinkan ini selaras dengan visi-misi mereka yaitu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Caranya adalah dengan membangun generasi yang sehat dan cerdas atau “Generasi Emas” Papua yang diharapkan dapat membangun dan menjaga Tanah Papua.

Elisa Kambu, Bupati Asmat, mengamini hal ini. “Untuk membangun Papua ke depan, ini tidak ada pilihan lain.  Investasinya adalah manusia.  Dan manusia ini harus kita siapkan dari janin,” tegasnya. Menurut Elisa, anak dapat bertumbuh dengan baik bila menerima asupan gizi yang cukup.

Melalui pemberian dana sebesar Rp200.000 per bulan per anak, BANGGA Papua memampukan OAP memberikan anak-anak mereka asupan gizi yang cukup serta layanan kesehatan yang layak. Orang tua dan masyarakat juga diberikan pengetahuan tentang pentingnya gizi dan kesehatan anak sehingga putra-putri mereka dapat tumbuh sehat dan cerdas.

BANGGA Papua memampukan Orang Asli Papua memberikan anak-anak mereka asupan gizi yang cukup serta layanan kesehatan yang layak.

Tahun 2017, Pemprov Papua menggandeng KOMPAK dan MAHKOTA1 untuk mendesain program BANGGA Papua. Program ini kemudian diluncurkan pada 23 November 2017. Sekretariat Bersama (Sekber) pun dibentuk pada tingkat provinsi dan diuji cobakan di tiga kabupaten yaitu Asmat, Lanny Jaya, dan Paniai. Sekber bertanggung jawab menyusun kebijakan yang menjadi payung hukum bagi pelaksanaan program, melakukan sosialisasi dan pendataan, memverifikasi data, hingga mendistribusikan dana bantuan kepada seluruh penerima manfaat.

Anggota Sekber terdiri dari perwakilan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Sosial serta Dinas Komunikasi dan Informatika. Di Kabupaten Paniai dan Asmat, anggota Sekber mencakup kader Posyandu, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh perempuan.

KOMPAK juga mendukung penyusunan strategi komunikasi BANGGA Papua melalui kerja sama dengan Yayasan BaKTI sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas komunikasi anggota Sekber Provinsi dan Kabupaten. KOMPAK melatih anggota Sekber agar mereka mampu memberikan pemahaman kepada para calon penerima manfaat dan masyarakat tentang pentingnya program BANGGA Papua bagi keluarga, keberlanjutan suku, dan masa depan Papua. 

Anggota Sekber antara lain dibekali keterampilan komunikasi persuasif untuk menggalang dukungan masyarakat terhadap program BANGGA Papua. Ini bukan perkara mudah. Kemampuan Sekber dalam melakukan sosialisasi yang masih perlu ditingkatkan, rendahnya literasi masyarakat, tempat tinggal para calon penerima manfaat yang terpencil dan tersebar, serta krisis kepercayaan terhadap program-program pemerintah menjadi tantangan utama dalam mensosialisasikan BANGGA Papua.

Melalui program BANGGA Papua, sebanyak 23.425 ibu/wali perempuan di Kabupaten Asmat, Lanny Jaya, dan Paniai menerima dana yang digunakan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak-anak mereka.
(foto diambil sebelum pandemi)

Tantangan ini semakin berat karena BANGGA Papua memperkenalkan dua “budaya” baru. Pertama, dana bantuan tidak diberikan secara tunai seperti program-program lainnya di Papua tetapi melalui transfer ke rekening bank. Kedua, penerima dana bantuan haruslah ibu dari si anak penerima manfaat, bukan ayah atau kepala kampung seperti yang lazimnya berlangsung selama ini.

Untuk itu, Sekber bekerjasama dengan berbagai komponen masyarakat seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, bidan Puskesmas dan bidan desa, ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), serta kader Posyandu. Mereka turut dilibatkan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi pemanfaatan dana BANGGA Papua. Media sosialisasi pun didesain khusus sehingga lebih dominan dengan pendekatan visual yang selaras dengan konteks lokal. Mereka juga dilatih tentang cara menggunakan media tersebut agar dapat memberikan sosialisasi secara lebih persuasif, misalnya dengan menggunakan bahasa lokal.

Pencairan dana BANGGA Papua tahap pertama terlaksana pada Desember 2018. Penerima manfaat terdiri dari 20.356 anak usia empat tahun ke bawah yang ditransfer kepada 16.027 ibu atau wali penerima manfaat dengan total dana sebesar Rp48.279.600.000. Transfer dana tahap kedua tahun 2019 diterima oleh 31.917 anak melalui 23.425 ibu/wali dengan total dana Rp41.527.400.000.

Mengingat hanya kaum ibu yang berhak membuka rekening bank dan menerima dana, BANGGA Papua turut berkontribusi pada pemberdayaan perempuan Papua. BANGGA Papua menilai para ibu berperan penting dalam keluarga, termasuk memastikan anak-anak tumbuh sehat dan cerdas.

“Pembentukan SDM yang kita harapkan itu mulai dari rumah. Dan peran di rumah lebih banyak ibu. Lewat BANGGA Papua, ibu dipersiapkan untuk membuat perencanaan masa depan anaknya,” tutur Elisa Kambu.

BANGGA Papua juga mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Ketika ratusan anak dan ibu/wali penerima manfaat berdatangan dari kampung-kampung jauh yang selama ini sulit dijangkau untuk mencairkan dana bantuan, kesempatan tersebut menjadi momen emas yang langsung dimanfaatkan oleh para tenaga kesehatan di Asmat untuk melayani masyarakat seperti pemeriksaan kesehatan anak, pemberian imunisasi, serta pengukuran berat dan tinggi badan.

“Biasanya kita susah ketemu mereka karena mereka sering ke hutan. Mumpung mereka berkumpul di waktu pencairan dana BANGGA Papua, sekalian saja kita adakan layanan kesehatan,” ujar Matea Yyongarut, petugas Puskesmas Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Asmat.

Dampak positif lainnya adalah lebih akuratnya pencatatan data OAP. Kepemilikan Nomor Induk Kependudukan (NIK) menjadi syarat utama menerima manfaat BANGGA Papua. NIK dibutuhkan untuk validasi kelayakan penerima manfaat sekaligus membuka rekening bank sehingga tanpa NIK, mereka tidak dapat menerima dana. Selanjutnya, pemerintah kabupaten memanfaatkan data yang telah terkumpul untuk perencanaan pembangunan. Di Paniai, misalnya, data tersebut digunakan Dinas Perumahan untuk merencanakan pembangunan rumah bantuan bagi OAP.

Para petugas kesehatan memanfaatkan momen pencairan dana BANGGA Papua untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, serta penimbangan berat badan dan tinggi badan.
(foto diambil sebelum pandemi)

“BANGGA Papua ini memberikan data yang lengkap. Manfaatnya besar untuk orang Paniai. Ke depan, pemerintah (Paniai) juga bisa jeli melihat cara-cara kerja ini yaitu bekerja berdasarkan data supaya bantuan pemerintah itu bisa sampai ke bawah tepat sasaran,” ucap Meki Nawipa, Bupati Paniai.  

Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi anak juga merupakan dampak positif dari program BANGGA Papua. BANGGA Papua tak hanya menyalurkan dana bantuan namun juga memberi pengetahuan sehingga para penerima manfaat paham mengapa dana yang mereka peroleh harus benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan gizi dan kesehatan anak-anak mereka. Meski Rp200.000 mungkin tidak cukup, setidaknya dapat menyemangati dan mendorong orang tua untuk lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan anak-anaknya.

“Kalau dulu tuh orang tua kurang perhatikan anak-anak dan anak tidak sehat. Tapi sekarang itu, makanannya teratur. Anak-anak bisa sehat. Kalau dulu setengah mati,” ujar Antonius Chowsomanan, Kepala Suku Semai, Kabupaten Asmat.  

Para pimpinan daerah juga tak ketinggalan menunjukkan komitmennya. Bupati Asmat kerap turun langsung mensosialisasikan BANGGA Papua kepada masyarakat. Bupati Paniai mengalokasikan lebih banyak dana operasional untuk Sekber Paniai. Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya mengintegrasikan BANGGA Papua dengan program perlindungan sosial yang sudah lebih dahulu diluncurkan yaitu kartu “Lanny Jaya Sehat”. Pemerintah Kabupaten Paniai bahkan mereplikasi model BANGGA Papua yang akhirnya berhasil melahirkan program perlindungan sosial bagi masyarakat lanjut usia.

Jalan membangun Generasi Emas Papua memang masih panjang, tetapi Pemprov Papua ingin bergerak cepat. “Orang Papua itu harus bertahan hidup di Tanah Papua. Terima kasih Bapak Gubernur, karena BANGGA Papua ini, anak-anak kami bisa mendapat imunisasi, mama-mama juga jadi paham bagaimana menjaga anak-anaknya, memberikan makanan yang bergizi sehingga anak-anaknya itu bisa bertahan hidup,” tukas Vivian Gobay, anggota Tim Penggerak PKK Kabupaten Paniai. 

1 MAHKOTA  (Menuju Masyarakat Indonesia yang Kokoh Sejahtera) adalah program kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia yang mendukung Tim Nasional untuk Percepatan Pengentasan Kemiskinan (TNP2K) untuk mengembangkan dan menguji cara-cara baru dalam memperbaiki kebijakan program-program pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial.

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
APBD Direvisi, COVID-19 Diperangi

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah memaksa pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, merevisi anggarannya. Refocusing ditempuh untuk men...

Cerita Perubahan
Mendekatkan Layanan, Membuat Setiap Orang Terdata

Betapa senangnya pasangan Darno dan Tursinah. Dua anak mereka, M Zainurrosikin yang lahir pada 2005 dan Hamimah yang lahir pada 2009 akhirnya mendapatkan akta kelahiran secara grat...

Cerita Perubahan
Merintis Perlindungan Sosial Masyarakat Kampung Waren dari SAIK Plus

Di Kampung Waren, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, upaya perlindungan bagi kaum yang termarginalkan itu mulai terwujud sejak hadirnya Sistem Administrasi dan Inform...

Menghadapi

COVID-19