Kumpulan Hasil

Highlights

UNIVERSITAS MEMBANGUN DESA (UMD) KOMPAK MENGANTAR DESA MENUJU KEMANDIRIAN

April 27, 2017

Pagi itu, sejumlah perangkat desa tengah bersiap untuk melaksanakan rapat koordinasi di Balai Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Rapat akan membahas pengembangan pariwisata di desa yang belakangan mulai populer di kabupaten tersebut. Desa ini menunjukkan perubahan yang signifikan dalam hal kesadaran dan kemampuan mereka untuk mengelola potensi wisata desa setelah mendapatkan pendampingan kegiatan Universitas Membangun Desa (UMD).

UMD merupakan kerja sama KOMPAK bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Jember (UNEJ). Adapun tujuan kegiatan UMD adalah untuk membangun Sistem Informasi Desa (SID), serta memanfaatkannya untuk mewujudkan desa mandiri dalam data dan informasi, pengenalan potensi desa, serta pemasaran produk unggulan desa. Salah satu kegiatan UMD di Desa Glingseran adalah pengembangan serta pengelolaan potensi pariwisata melalui pengenalan tata kelola objek wisata yang baik oleh warga. Hal ini disambut baik oleh masyarakat, sehingga mulai terbentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang bertugas untuk mengelola wisata alam secara langsung.

Salah satu potensi wisata yang mulai dikelola oleh Pokdarwis adalah objek wisata Air Terjun Sulaiman. Air terjun yang indah ini sudah ada sejak lama, namun selama ini tak ada yang pernah berpikir bahwa air terjun tersebut mampu menjadi sebuah daya tarik untuk menarik wisatawan. Pengelolaan pesona air terjun ini juga mampu menarik perhatian Dinas Pariwisata Bondowoso yang belakangan turut membantu Pokdarwis mempromosikan Air Terjun Sulaiman sebagai objek wisata baru di Bondowoso.

Tidak berhenti sampai di situ. Pokdarwis bersama warga terus mengeksplorasi potensi sumber daya alam lainnya di Desa Glingseran untuk dikembangkan menjadi objek wisata. Yang terbaru adalah wana wisata flying fox yang baru saja dibuka oleh pihak desa. Koordinator Desa mahasiswa UMD, Dwi Oktavia menyatakan, “Kami melihat kondisi alam di Desa Glingseran ini indah sekali. Pada saat pemetaan potensi desa, kami memasukkan pariwisata sebagai potensinya. Setelah dikomunikasikan dengan masyarakat, ternyata mereka tertarik dan kemudian bergotong royong untuk memaksimalkan potensi yang ada.”

Selain itu, ada pula Wisata Taman Rengganis yang konon merupakan lokasi pemandian Dewi Rengganis yang melegenda. Letaknya yang di tengah sungai dengan pemandangan hamparan sawah hijau menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyaknya situs megalitikum yang menggambarkan peradaban kuno di Bondowoso juga menjadi daya tarik wisata sejarah yang ditawarkan Desa Glingseran.

“Banyak perubahan positif yang terjadi di Desa Glingseran setelah adanya pelaksanaan UMD. Sebelum pendampingan kami belum menyadari bahwa ada banyak potensi alam yang menjanjikan sebagai sumber pendapatan tambahan bagi kami,” kata Sulaedi, Kepala Desa Glingseran. “Setelah kami kerja bakti membersihkan daerah sekitar air terjun bersama masyarakat dan mahasiswa KKN, baru terlihat kalau ternyata air terjunnya indah. Bahkan wisatawan dari luar Bondowoso mulai berdatangan,” tambahnya dengan wajah sumringah. Dampak lain yang muncul pasca pengembangan wisata di desa adalah berkurangnya pengangguran. Hal ini diakui oleh Sulaedi yang menceritakan bagaimana sebelumnya banyak warga desa yang menganggur atau terpaksa merantau untuk mencari pekerjaan.

“Kami sangat merasakan manfaat dari masuknya kegiatan KOMPAK ke desa kami. Sekarang kami memiliki penghasilan tambahan dengan mengoptimalkan potensi desa untuk membuat berbagai produk unggulan desa berbasis komoditi lokal, seperti produksi makanan kecil, virgin coconut oil, dan kerajinan tangan,” jelasnya. Sulaedi berharap, Desa Glingseran bisa menjadi barometer percontohan untuk desa lain agar mampu keluar dari ketertinggalan. Untuk itu Sulaedi dan warganya berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi pariwisata desa. Salah satunya adalah dengan memberitakan perkembangan desa melalui situs web resmi www.glingseran-bondowoso. desa.id. Selain itu, pihaknya juga rutin menggalang aspirasi warga untuk kemajuan sektor pariwisata di desa. Selain UNEJ, KOMPAK juga menjalin kerja sama serupa dengan beberapa universitas lain seperti Universitas Ar-Raniry, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Universitas Alauddin, Provinsi Sulawesi Selatan, dan Universitas Parahyangan, Provinsi Jawa Barat.

 

Pelayanan Terpadu Kilat Desa Cermee

Tak hanya Desa Glingseran yang menunjukkan perubahan signifikan setelah mendapatkan pendampingan kegiatan UMD. Desa Cermee yang berada di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Situbondo juga mampu membuktikan bahwa mereka dapat bersaing, meski letaknya cukup jauh dari pusat kota. Desa dampingan UMD KOMPAK ini unggul dalam unit pelayanan terpadunya. Kepala Desa Cermee, Sutrisno, mengatakan bahwa saat ini pelayanan publik di tingkat desa kian efisien setelah diterapkannya Sistem Administrasi Informasi Desa (SAID), yang mampu mengakomodasi kebutuhan administrasi warga yang biasa diurus di tingkat desa.

“Sebelum pendampingan, untuk mengurus administrasi memakan waktu lebih lama, karena harus diketik satu persatu. Sekarang warga cukup membawa KTP, menyampaikan permohonannya, kemudian kami tinggal mencetak dan selesai. Proses keseluruhan hanya memakan waktu 5 menit,” kata Sutrisno. Pendampingan yang dilakukan Mahasiswa UMD meliputi tata cara melakukan survei untuk mengumpulkan berbagai data dari warga, melatih aparat desa untuk melakukan validasi data, kemudian memasukkannya ke dalam SAID. Hal ini dilakukan guna memastikan berbagai informasi yang masuk dalam SAID sudah valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Selama 45 hari kami mendampingi perangkat desa. Sudah ada 200 Kepala Keluarga (KK) yang terdata dari sekitar 2400 KK. Pendataan tersebut cukup detil, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan hingga ekonomi seperti jumlah penghasilan per bulan, anak, dan pendidikan,” terang Zein Arrahman, Koordinator Desa UMD Desa Cermee. Walaupun kegiatan UMD telah berakhir, tim validasi data akan terus melakukan survei untuk mengakomodasi seluruh warga Desa Cermee. Manfaat lain dari penerapan SAID adalah meningkatnya kepercayaan masyarakat, karena pihak desa membuka akses informasi secara luas. Melalui situs resmi desa www. cermee.desa.id, warga dapat mengajukan berbagai kritik, saran dan masukan serta meminta informasi kepada operator situs desa. “Kami juga mempublikasikan sumber dan penggunaan anggaran desa secara transparan dalam bentuk infografis dan dipublikasikan dalam berbagai bentuk seperti baliho dan poster,” ungkapnya.

RELATED ARTICLES
Peluncuran Permainan Simulasi Sekolah Desa di 15 Provinsi

Peluncuran Permainan Simulasi Sekolah Desa di 15 Provinsi

Januari 15, 2016

Direktorat Bina Pemerintah Desa (Pemdes) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mempunyai mandat untuk memperkuat kapasitas…

SELENGKAPNYA

LOKAKARYA PEMANTAUAN DAN EVALUASI TRANSFER FISKAL TERTENTU

Desember 12, 2016

Bima (21/12) – Jumlah alokasi dana dari pemerintah pusat ke pemerintah provinsi telah mengalami peningkatan.…

SELENGKAPNYA
KOMPAK #pledgeforparity pada Hari Perempuan Internasional 2016

KOMPAK #pledgeforparity pada Hari Perempuan Internasional 2016

Maret 14, 2016

Di seluruh dunia, perempuan terus memainkan peran yang penting dan aktif dalam capaian-capaian sosial, ekonomi,…

SELENGKAPNYA